IMPRESI

Aku Lelah Belajar di Lingkungan Sekolah

17-12-2017 07:49
224 Views

TERIK sang mentari tak dapat lagi terhalang-halangi untuk hadirnya rasa haus yang dahsyat ini. Aku berada di dalam ruangan dengan penuh kaca gaya modern kini. Celoteh sang pengajar akan dimulai dari bangku empuk yang hangat semakin memberikan kesan nyaman baginya. Mulailah ia membaca slide Power Point dari layar kaca notebooknya, semakin membuat diriku membosan saja.

Sudah tak didengarkan oleh sahabat-sahabatku ia tetap saja percaya diri untuk melanjutkan celotehanya, miripnya  seperti bernyanyi merdu tapi baginya saja mungkin. Lalu ekspresi wajahnya yang datar dan ditemani obrolan-obrolan kecil sahabat-sahabatku semakin membuat kelas gaduh dan tak jelas saja. Inilah rutinitas dalam perjalanan menempuh keberpendidikanya diriku.

Selesai prosesi belajar mengajar di kelas itu aku merenung. Entah mengapa ketika sedang ramai perlakuan Go Green, tempatku menempuh pendidikan malah seperti ini. Warnanya saja hijau tapi tak menyejukan. Katanya sih lagi pembangunan ya gitu deh debu bertebaran suara bising alat pembangunan mengganggu ruang-ruang pelajaran.  Belum lama ini terjadi pergulatan antara pribumi dengan pemerintahan disamping sekolahku ini, semakin membuat aku risih. Kenapa keributan ini terjadi dilingkup pendidikan ?. Katanya sih mereka tidak mau dipindah dengan relokasi yang tak sesuai.

Belakangan aku dengar mereka diberikan rumah susun yang tak bisa menampung sebagian peralatan rumah tangganya dan yang lebih kacau mereka diberikan gudang bersama kiranya pemerintah tak berpikir apa, masa ia peralatan pribadi disatukan secara bersama. Sudah itu tempatnya ku dengar akan dibuat gedung berlantaikan 6 untuk para pegawai. Pemerintahan ini sungguh tak adil bagiku, aku merasa ada keganjilan. Mengapa selalu yang kecil dirampas haknya, bukankah katanya di nafkahi negara harusnya?. Oh iya aku lupa itu hanya omongan utopia belaka, ini hanya risauan hatiku saja.

Teleponku berdering ternyata ada pesan pendek dari sahabatku “bapak sudah ada dikelas”, baru saja aku ingin memesan makanan untuk mengganjal suara kriuk-kriuk perutku ini, tapi aku harus beajar. Bayangkan saja berapa uang yang harus orangtua ku keluarkan untuk anaknya ini maklum saja, orangtua ku ialah buruh tani di desa kecil. Dengan wajah yang cemberut, sampailah aku diruang pengap itu kembali. “AC tak berguna” ungkapan hatiku.

Semakin memperburuk pandangan ku terhadap institusi pengelola sekolah ini. Banyak sih yang bilang padaku “ Sudah mahal, mutunya kacau pula, repot-repot sekolah, kamu cari apasih? Pasti cari izasah?” aku semakin tak percaya diri mendengar itu. Apa aku sudahi saja sekolahku ini ?. Lebih baik aku bantu ibu ayah ku dirumah jelas mengurangi bebanya.

Pelajaran kali ini pelajaran agama akan tetapi guru ini amat tidak disukai oleh murid-murid bayangkan saja dia menyerukan kebenaran bicara tentang kesabaran tapi dia tak pernah sedikitpun mencerminkan kebaikan. Kemarin aku terlambat, aku mengira akan diperbolehkan masuk. Tapi ternyata saat aku masuk keruang kelas, aku malah dicaci maki dan tak dibolehkanya mengikuti pembelajaran. Ini yang dikatakan “jangan cuma bisa ngomong tapi ga bisa aksi, juga sebaliknya”, hela nafasku. Katanya Tuhan mencintai hamba-hambanya yang sabar kenapa guruku ini tidak mau dicintai Tuhan ya?. Aku tak pernah melihatnya sabar.

Pembelajaran dimulai. Kembali aku merenung. Bayangkan olehmu bagaimana tak semakin bergunanya pendidikan dimana merampas kata-kata dari mulut para murid sudah mirip kaum tertindas dan penindas, bagaimana terjadinya?. Aku beritahu, di kelas ku jika ada yang bertanya akan di jauhi karena dianggap merampas waktu, selain itu ketika bertanya akan dihardik guru bunyinya seperti ini “kau tak mendengarkan ya apa yang ku terangkan dari tadi bapak bicara kemana saja kamu”.

Masih banyak lagi hardikan bagi murid-murid yang ingin tahu lebih atau tak mengerti akan penjelasan sang guru, tapi mereka ketakutan sudah seperti berdosa jika melakukan dialog dengan guru sehingga tak ada yang mampu mempelajari hebatnya retorika. Jangankan itu berpengetahuan luas saja dilarang, bagaimana tidak jika murid-murid sekolah ku dulu ada yang berbeda pendapat berdasar literature yang berbeda dengan guru pasti disalahkan dan diaggap tidak sopan.

Entah macam apa pendidikan yang aku jalani, aku bagaikan dijeruji besi dengan kesalahan tingkat tinggi beginilah pelaksanannya. Aku semakin membenarkan teman-temanku yang menjauhi dunia pendidikan ini, bahkan banyak kawanku yang mendapatkan anomaly sosial mereka memandang hal-hal buruk seperti merokok dan mabuk lebih baik dari pada gaya-gayaan pegang buku dan belajar.

Seketika di tengah keberlamunanku suara yang ditunggu terdengar ditelingaku “Sudah yah itu saja yang bisa bapak sampaikan bapak mau pergi karena ada tugas yang harus diselsaikan”. Perkataan yang amat menyenangkan bagi sahabat-sahabat kelas ku karena waktu yang membosankan telah usai. Tadi pelajaranya tentang bagaimana agama memandang wajibnya menimba ilmu.

Temanku yogi berkata padaku “Bro gimana kita mau menuntut ilmu dari buaian hingga liang lahat kalau sekolah udah mirip neraka ya? Siapa yang ga mau jauhi sekolah?”, betul juga kataku. Kembali masuk kerenunganku apa yang salah ya? Kenapa seperti ini ? mau kemana bangsa ini nantinya? Oh Tuhan masyarakat pun menuntut peran moral, intelektual, dan sosial pada kaum terpelajar bagaimana kami akan mengerjakanya jika prosesnya saja seperti ini.

Aku pernah membaca buku yang berjudul Sekolah Itu Candu, bunyinya seperti ini “Paling sedikit dua belas tahun waktu yang dihabiskan untuk bersekolah. Masa yang lama dan menjemukan jika sekedar mengisinya dengan duduk, mencatat, mendengarkan guru berceramah di depan kelas dan sesekali bermain. Sekolah memang bisa mencetak seorang menjadi pejabat atau penjahat.

Masihkah pantas sekolah mengakui dirinya sebagai pemeran tunggal yang mencerdaskan dan memanusiakan seseorang”. Habislah sudah masa mudaku yang tak mendapatkan hakikat pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Apa aku harus diam saja dengan seperti ini. Sepertinya aku menemukan titik sadar bahwa ada yang salah dengan ini semua. Akhirnya aku menuliskan kegundahan ku pada selembar kertas.***

 

Penulis : Muhammad Dwiansyah Damanik