Angin Puyuh di Dayeuh Pakuan

67 0

Disadari atau tidak, amukan angin puyuh hanya terjadi di seputaran Istana Batu Tulis dan Makam Keramat Mbah Dalem atau wilayah Dayeuh Pakuan

KAWASAN Bogor disapu puting beliung atau angin puyuh sudah tidak aneh. Saban tahun, kala musim cuaca buruk, selalu ada amukan badai. Apalagi, Bogor ini memiliki siklus cuaca unik. Hujan di Bogor tak mengenal musim. Makanya dijuluki Kota Hujan.

Pun demikian dengan jumlah petir di Bogor, yang dicatatkan tertinggi di Indonesia, Asia dan bahkan dunia. Sambaran petir di Bogor ini sudah dibukukan dalam Guiness Book of World Record dengan sambaran petir 322 kali. Kondisi normal hanya 80 kkali

Cuaca unik itu membuat kawasan Bogor dan sekitarnya rawan bencana alam, angin puyuh, tanah longsor dan banjir, sudah biasa. Kawasan Puncak merupakan salah satu daerah langganan tanah longsor.

Musibah Angin Puyuh Terdahsyat

Bencana teranyar adalah angin puyuh. Ini badai terdahsyat sepanjang sejarah Bogor. Puting beliung besar pernah terjadi pada tahun 2002. Saat itu ada kebijakan kontroversial Menteri Agama Sa’id Aqil, yang melakukan penggalian tanah di salah satu situs Prasasti Batu Tulis.

Tujuan penggalian mencari harta karun, yang konon bisa menutupi hutang Indonesia. Sehari kemudian, hampir seluruh kawasan Bogor disapu angin puyuh. Dampak angin kencang era Presiden Megawati itu tak begitu besar.

Dalam musibah angin puyuh pada Kamis, 6 Desember 2018 sore, terdata sebanyak 1.697 bangunan luluh lantak, puluhan pohon tumbang, empat mobil ringsek dan satu orang meninggal dunia karena kendaraan yang dikemudikannya tertimpa pohon tumbang.

Wali Kota Bogor Bima Arya menyatakan butuh dana senilai Rp 15 miliar untuk memulihkan dampak bencana. Kerusakan akibat angin puyuh ini tersebar di lima kelurahan di Kecamatan Bogor Selatan dan tiga kelurahan di Kecamatan Bogor Timur.

Disadari atau tidak, amukan angin puyuh hanya terjadi di seputaran Istana Batu Tulis dan Makam Keramat Mbah Dalem, Prasasti Batu Tulis dan Sumur Tujuh. Areal ini, bagi beberapa kalangan termasuk disakralkan dan dianggap keramat.

Malah, kejadian mobil tertimpa pohon dan menyebabkan seorang ibu tewas, lokasinya tak jauh dari makam keramat Mbah Dalem. Makam penasehat raja tersebut sering didatangi para penziarah dari berbagai kalangan dan daerah.

Secara historis dan catatan sejarah, Kelurahan Lawang Gintung, Batu Tulis, Cipaku, Pamoyanan dan Rangga Mekar merupakan pusat pemerintahan atau Ibukota Kerajaan Pajajaran, yang disebut Dayeuh Pakuan. Kerajaan Sunda Agung ini dipimpin Prabu Siliwangi.

Di zona keramat Dayeuh Pakuan ini, terdapat banyak jejak atau peninggalan Kerajaan Pajajaran. Beragam benda pusaka, petilsan kerajaan, seperti Sumur Tujuh dan prasasti Batu Tulis, makam-makam keramat, merupakan peninggalan zaman kerajaan.

Sehingga tak heran apabila sebagian kalangan mempercayai terjadinya bencana angin puyuh erat hubungannya dengan keberadaan para Karuhun (leluhur) Bogor. Leluhur marah dan menegur karena tempatnya nyanghiyang-nya (tinggal) terusik.

Wilayah Keramat Sumur Tujuh Terusik

Secara kebetulan, saat ini memang sedang berlangsung pengerjaan proyek di areal keramat Sumur Tujuh, dekat makam Mbah Dalem yang persis berada di bawah Istana Batu Tulis.

Menurut informasi, lahan seluas 6.600 meter persegi di seputaran Sumur Tujuh akan dibangun ruko dan perumahan oleh pengusaha asal Jakarta. Rencana pembangunan ini sudah merubah bentuk asli dari Sumur Tujuh. Mata air ini dipercaya sudah ada sejak zaman Kerajaan Pajajaran. Bahkan, air dari sumur tujuh diyakini mempunyai berbagai khasiat.

Seorang sesepuh kampung setempat, biasa dipanggil Mbah Wan menceritakan, mata air yang berkhasiat tentu ada penghuninya. Sumur Tujuh dipercaya dijaga karuhun atau makhluk ghaib berupa khodam kerajaan Pajajaran. Aktivitas proyek dipercaya telah mengusik para karuhun dan merusak areal keramat dari Dayeuh Pakuan.

Hubungan peristiwa angin puyuh dan areal keramat tempat bersemayamnya para karuhun ini, sampai ke telinga Wali Kota Bima Arya. Ia mengaku tidak tahu legenda mata air keramat Sumur Tujuh di Dayeuh Pakuan, Lawang Gintung.

Dalam hitungan hari, sepertinya Wali Kota mendapat masukan dari para Kokolot Bogor terkait hubungan angin puyuh dengan karuhun. Pada Ahad, 9 Desember 2017, Bima mendatangi lokasi proyek dan ia meminta langsung diantarkan ke lokasi Sumur Tujuh.

Areal keramat Sumur Tujuh sudah berubah bentuk. Kondisi saat ini, mata air di sumur tujuh berada di kedalaman sekitar 7 meter. Dan sudah berubah bentuk dengan dipasang hong beton besar. Di sekeliling mata air, gundukan tanah Merah masih berantakan.

Bima menyikapi serius persoalan tersebut. Ia berjanji bakal berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan untuk memastikan keterkaitan dengan cagar budaya serta sejarah Kerajaan Pajajaran. Hasilnya, Senin siang Wali Kota menyatakan menghentikan semua aktivitas proyek ruko dan perumahan di areal keramat Dayeuh Pakuan.

Bogor Harus Miliki Ciri Dayeuh Pakuan
Sesungguhnya seorang Kepala Daerah harus tahu jejak sejarah daerah yang dipimpinnya. Apalagi, literatur Kerajaan Pajajaran tidaklah sulit untuk ditemukan. Sebagai pusat Kerajaan Sunda Agung, Bogor sedikitpun tak mempunyai cermin atau simbol dalam konteks pembangunannya.

Representasi Kerajaan Pajajaran justru diadopsi oleh Kabupaten Purwakarta. Bupati Dedi Mulyadi, yang daerahnya bukan pusat Ibukota Kerajaan Pajajaran, membangun karakter Kerajaan Pajajaran di Purwakarta. Simbol dan cermin Kerajaan Sunda Agung ada di sana. Dedi menunjukan bentuk kecintaan dan kebanggaan terhadap akar budaya Sunda.
Sedangkan di Bogor, yang jelas-jelas sebagai Dayeuh Pakuan dari Kerajaan Pajajaran, sampai sekarang adem ayem saja. Tak ada sedikitpun identitas sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Sunda Agung.
Sebaliknya, perencanaan tata kota dan arah pembangunan justru menggerus wilayah-wilayah sakral dari Kerajaan Pajajaran. Tak ada upaya melindungi aset budaya masyarakat Sunda. Harusnya Bogor bangga dan menunjukan rasa hormatnya kepada para leluhur atau karuhun.
Bangunlah simbol-simbol Kerajaan Pajajaran di Kota Bogor. Biarkan anak, cucu, cicit kita itu tahu bahwa di tanah kelahirannya dulu pernah ada kerajaan besar yang dipimpin Raja Agung dan bijaksana, yakni Prabu Siliwangi.

Rupa Kepala Harimau Putih di Pohon Tumbang
Prabu Siliwangi sering direpresentasikan dengan harimau putih. Pertanda atau simbol Harimau Putih ini muncul dalam potongan batang pohon, yang tumbang di area Makam Keramat Mbah Dalem saat angin puyuh melanda.
Dalam potongan kayu tersebut, sepintas seperti tapak kaki. Tapi jika diperhatikan lebih detail, pada bagian ujung, jelas terlihat rupa kepala harimau putih.

Mungkinkah tanda kaki dan rupa kepala harimau putih itu petunjuk dari karuhun bahwa mereka memang ada atau hanya sekedar mitos? Wallahualam

Lepas dari keyakinan karuhun dengan angin puyuh, Pemkot Bogor berkewajiban menjaga dan menghormati keberadaan Kerajaaan Pajajaran, Galuh Pakuan atau Raja Prabu Siliwangi di Kota Bogor.

Bima Arya berkewajiban menjaga dan melestarian segala peninggalan nenek moyang, leluhur atau karuhun warga Bogor, termasuk Sumur Tujuh.

Semoga kejadian angin puyuh ini bisa diambil hikmahnya dan menjadi pelajaran berharga bagi warga Bogor dan pemerintah daerah untuk tidak melupakan akar sejarah. Jelas dan tercatat bahwa Dayeuh Pakuan dan Kerajaan Pajajaran itu ada di Kota Bogor.***

 

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *