PANGGUNG

Bima Arya Itu, Rahmat LPKP : Bisa Jadi Kawan atau Lawan Bersama

17-12-2017 07:57
311 Views

Direktur Eksekutif Lembaga Pemerhati Kebijakan Publik (LPKP), Rahmat Syamsul Anwar

BOGOR – Sebulan lagi Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bogor sudah membuka pendaftaran bakal pasangan calon (Bapaslon) wali kota dan wakil wali kota Bogor periode 2018-2023, yakni mulai tanggal 8 sampai 10 Januari 2018. Kecuali calon jalur independen, sampai sekarang belum ada  partai politik yang mendeklarasikan koalisi dan menetapkan Bapaslon.

Begitu pun dengan sang primadona politik di Kota Bogor, balon petahana, yakni Bima Arya Sugiarto. Ia masih bermain layang-layang kepada para kolega politiknya. Padahal sejak jauh hari, antrian calon pendampingnya sudah mengular, tapi kader Partai Amanat Nasional (PAN) ini belum bersikap secara tegas.

“Semua menilai bahwa kekuatan Bima Arya selaku petahana sulit ditandingi. Posisi saat ini, Bima Arya paling berpeluang kembali memimpin Kota Bogor. Karena itulah Bima Arya punya daya tawar tinggi,” kata Direktur Eksekutif Lembaga Pemerhati Kebijakan Publik (LPKP), Rahmat Syamsul Anwar kepada polbo di Bogor, Rabu, 6 Desember 2017.

Menurut aktivis PMII Bogor ini, mayoritas politisi dan para bakal kandidat berharap menjadi wakil Bima Arya. Hampir semua parpol mengarahkan dukungannya kepada petahana. Mereka berpikir sulit melawan Bima dan akhirnya memilih ikut menang di Pilwalkot 2018. Walaupun, perkembangan terkini, mengkerucut kepada dua nama, yakni Dadang Iskandar Danubrata (Ketua DPC PDIP) dan Zaenul Mutaqin (Ketua DPC PPP).

“Secara politis realistis. Tapi, faktanya kursi PAN itu sendiri tidak mencukupi untuk mengajukan pasangan calon. Artinya, harus berkoalisi. Saya melihat, Bima Arya berusaha membangun koalisi gemuk dengan kekuatan daya tawarnya itu,” ungkap Rahmat, yang biasa dipanggil Along.

Sebenarnya, lanjut Along, sikap politik Bima Arya bisa blunder. Itu jika partai-partai politik yang sudah mempunyai balon kepala daerah membangun poros baru untuk melawan calon petahana. Bahkan, jika partai-partai mempunyai keberanian, bisa meninggalkan koalisi yang dirancang PAN. Resikonya Bima Arya tidak bisa maju di pilkada karena tidak memenuhi syarat tiket pencalonan.

“ Atau sebaliknya Bima Arya bisa merangkul semua dengan membangun koalisi gemuk, seperti dilakukan Rachmat Yasin pada Pilbup Bogor 2013. Artinya, daya tawar tinggi Bima Arya berpotensi positif dan negatif,” Along menjelaskan. “Jadi Bima Arya itu, sebenarnya bisa jadi kawan atau lawan bersama.”

Direktur LPKP menceritakan, jika Bima Arya mampu menjadi kawan bersama dengan merangkul mayoritas parpol, maka Ia bisa mencari pendamping dari kalangan non politik, birokrat atau pengusaha.  Sebaliknya, jika Bima Arya gagal mengakomodir kepentingan parpol, maka ada potensi Ia menjadi lawan bersama.

“Walau kecil kemungkinannya, bisa saja Bima ditinggalkan oleh semua parpol. Satu hal yang bisa menjadi kejutan, ketika Bima Arya memilih calon wakil-nya di luar nama-nama politisi yang saat ini dinilai sebagai kandidat kuat, yakni Dadang dan Zaenul,” pungkas Along.

Sebelumnya, Bima Arya pernah ditanya polbo mengenai arah koalisi dan siapa kandidat yang bakal dipilihnya sebagai pendamping, Ia memilih menyerahkan jawaban  kepada Begawan politik Bogor, H. Endang Kosasih. “Ini saya datang untuk minta petunjuk beliau (H.Endang Kosasih),” kata Bima Arya saat menghadiri resepsi pernikahan putri H. Endang Kosasih di Ciawi, Ahad, 26 Nopember 2017.

 

 

ARIE SURBAKTI | AS