IMPRESI

Cawabup Terbaik untuk Ade Yasin

17-12-2017 07:53
343 Views

Effendy Joy Pendhita

SETELAH Lembaga Survei Indobarometer mengeluarkan hasil penelitiannya, belum lama ini, maka sebenarnya ada empat pilar pemenangan Ade Yasin. Yang pertama adalah harus kerja lebih keras, kedua lebih semangat, ketiga lebih cerdas ( jangan sebaliknya), dan keempat jangan berbangga diri ini adalah hasil kerja sendiri atau timnya.

Memang saya hanya sepintas membaca, terlepas dari akurasi survei dan kevalidan data yang dikeluarkan Indobarometer itu. Namun sangat jelas bahwa figur Calon Bupati kita (PPP), Ade Yasin berada di posisi tertinggi. Ia unggul dari berbagai aspek dan indikator. Hasil survei ini tentu sama dengan polling dan hasil survei versi media lokal. Pun termasuk kelompok masyarakat lain yang hasilnya juga mendudukan Ade Yasin sebagai balon bupati tertinggi popularitas dan elektabilitasnya.

Akan tetapi, saya juga melihat ada beberapa indikator yang hasilnya agak ganjil. Misalnya, untuk sebaran suara di kecamatan, wilayah Kecamatan Cibinong yang slama ini menjadi basis massa pemilih Ade Yasin di Pemilu Legislatif tahun 2014, justru menjadi daerah terendah di Dapil 1.

Kemudian untuk figur Cawabup, malahan suara tertinggi diraih Adang Suptandar, yang notabene seorang birokrat. Kini masih menjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Bogor. Padahal, Adang Suptandar tidak bergerak secara gencar, tidak terlihat memasang alat peraga maupun melakukan kegiatan sosialisasi kepada masyarakat.

Lalu suara terbesar berikutnya untuk posisi cawabup, adalah dua politisi yang selama ini disebut-sebut sebagai kandidat kuat pendamping Ade Yasin, yakni Fitri Putra Nugraha (Mas Nungki), Sekretaris DPW Hanura Jawa Barat dan Iwan Setiawan, Ketua DPC Gerindra Kabupaten Bogor. Peringkat berikutnya yaitu Dace Supriadi, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan, yang juga Ketua Ormas Kerukunan Warga Bogor (KWB) Kabupaten Bogor.

Menurut saya ini sebuah anomali politik. Karena agak aneh, meskipun sebenarnya hasil survei itu sendiri cukup menarik. Alasannya karena selama ini mayoritas orang-orang lebih menjagokan Iwan Setiawan atau Nungki untuk menjadi Cawabup Bogor, pendamping Ade Yasin. Nama Adang Suptandar tak pernah disebut-sebut.

Dari hasil survei ini, tentu fokus publik kini tertuju pada siapa figur yang akan dipilih sebagai Cawabup. Ini menjadi sulit karena banyak hal yang harus dipertimbangkan, misalnya aspek kompetensi, loyalitas, basis massa dan sokongan finansial. Nah, sekrang mari kita sama-sama analisa figur yang paling relevan dengan aspek yang tadi sebutkan. Tentu saja kita punya pandangan dan pendapat yang berbeda.

Tapi saya pribadi menilai ke empat Cawabup tertinggi versi Indobarometer ini ialah yang terbaik dari yang muncul dan ada saat ini. Itu di luar calon yang diajukan oleh PDIP dan Golkar. Untuk diketahui, Adang Suptandar ini akan pension 2 tahun lagi. Keunggulan dia adalah berpengalaman dalam manajerial pemerintahan. Adang menguasai akses ke segala lini pemerintahan daerah, dan secara politis dia tidak memiliki resistensi serta dianggap publik sebagai figur yang bersih. Kadar loyalitasnya tentu lebih kuat ketimbang para politikus.

Kemudian Nungki, keunggulannya dia dianggap figur politikus muda yang dinamis dan intelektual, citranya relatif baik walau sempat dianggap berkarakter arogan dan egois. Dengan latarbelakangnya, Nungki dapat memecah suara kader dan simpatisan kompetitor Ade Yasin di Pilbup Bogor 2018. Untuk sokongan finansial, dia kini dijamin oleh Ketua Umum partainya, yakni Oesman Sapta Odang.

Kita semua tahu OSO dikenal sebagai pngusaha papan atas sekaligus pimpinan lembaga senator dan MPR RI. Kadar loyalitas Nungki bisa dilihat sewaktu menjabat Wakil Ketua DPRD, dia sinergis dengan Rachmat Yasin, yang kala itu masih menjabat Bupati.

Selanjutnya Iwan Setiawan. Ia dipandang banyak pihak sebagai salah satu politikus yang low profil,  tidak ambisius. Citranya pun bersih dan cukup bagus di mata public, meskipun kinerja politiknya tidak begitu menonjol, apalagi istimewa. Di kalangan internal Gerindra, Iwan dianggap punya kekurangan. Keunggulannya dia adalah “anak emas” Waketum Gerindra skaligus Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon, yang tentu saja akan mendukung penuh Iwan, termasuk sokongan finansial. Bicara loyalitas, meski partainya berseberangan sikap dengan PPP dalam hal dukungan di Pilpres 2019, secara umum Iwan dianggap tidak berpotensi kuat berbalik jadi lawan saat menjabat nanti.

Terakhir Dace Supriadi. Ia dianggap kuda hitam dengan ambisi besarnya. Keunggulannya dia dianggap banyak pihak sukses mengkonsolidasikan KWB sebagai ormas besar di Kabupaten Bogor. Ia pengalaman dalam hal manajerial pemerintahan dan hubungan yang luas, karena karir jabatannya yang berpindah-pindah. Loyalitasnya tidak terlalu kuat karena ambisinya, namun dia dikenal publik sebagai loyalis Bupati RY, meskipun belakangan mulai bertemu beberapa elit parpol dan berdiskusi intens dalam wacana “poros baru pilbup” yang dihuni tiga partai.

Nah, siapa pun yang akan terpilih mendampingi Ade Yasin, kita harus menghormati sekaligus juga mendukung penuh, karena itulah pilihan terbaik Ade Yasin dan tim khusus yang tentu saja sudah mendengarkan masukan dari berbagai pihak. Semangat!!!!

 

 

Penulis adalah Ketua Pimpinan Wilayah Angkatan Muda Ka’bah Jawa Barat