Kota Bogor Terapkan PSBB Transisi Hingga 4 Juni

AvatarPosted on at 02:43
34 0

Bogor  –   Berdalih menyesuaikan masa akhir dari PSBB DKI Jakarta, karena terintegrasi dari Jakarta akhirnya Kota Bogor menerapkan PSBB mulai 27 Mei hongga 4 Juni 2020. Dalam skema ini, akan diberlakukan beberapa penyesuaian/

Wali Kota Bogor Bima Arya menyatakan mulai Rabu ini 27 Mei 2020 akan dilakukan beberapa penyesuaian, karena akan bersiap-siap memasuki fase tatanan baru yang akan dimulai pada 4 Juni 2020, ungkap Bima Arya di Balaikota Bogor, Selasa 26 Mei 2020 kemarin.

“Kita harus selaras, seirama dan saya sudah berkomunikasi dengan Gubernur Jabar, Ridwan Kamil. Beliau memberi ruang bagi Kota Bogor untuk memutuskan dengan pertimbangan kedekatan dengan Jakarta.

Menurut Bima, “Pada prinsipnya protokol kesehatan akan kami perketat, pengawasan di wilayah (RT/RW) untuk arus keluar masuk orang akan kami perketat, namun kami akan memberikan izin bagi toko non-pangan, pasar serta restoran untuk beroperasi dengan sejumlah persyaratan,” jelasnya.

Persyaratan yang dimaksud adalah tempat usaha wajib menerapkan protokol kesehatan, baik bagi pengunjung maupun karyawannya. Untuk restoran atau cafe diwajibkan tetap dengan standar protokol kesehatan, dan pembatasan atas kapasitas yang ada yakni beroperasi dengan kapasitas maksimal adalah 50 persen, lanjut Bima.

Kemudian, untuk pasar dan toko-toko non-pangan (pakaian, sepatu, bengkel, dll) diizinkan beroperasi juga dengan catatan diberlakukan protokol kesehatan. “Ada batasan dalam jumlah pengunjung. Perwali akan kami revisi dan ditetapkan besok supaya bisa menjadi panduan Satpol PP dan Dishub. Apabila ada pelanggaran-pelanggaran tetap kami akan berlakukan sanksi. Apabila ada toko, resto yang kemudian beroperasi dengan full kapasitas dan tidak ada protokol kesehatan, tentu akan ada tindakan-tindakan penerapan sanksi “

Sementara untuk aktivasi Masjid, Bima memerintahkan Camat dan Lurah untuk berkomunikasi dengan seluruh tokoh-tokoh untuk mengaktivasi masjid. “Masjid-masjid dan tempat ibadah lainnya harus diaktivasi sebagai pusat edukasi dan juga lumbung pangan atau logistik.

Warga tetap melaksanakan ibadah dirumahnya masing-masing. Diharapkan, masjid-masjid aktif mengambil peran, tidak saja untuk mengedukasi warga melalui DKM, speakernya, tetapi juga bisa menjadi tempat alternatif untuk pusat logistik, lumbung pangan dan dapur-dapur umum di setiap kelurahan.

Untuk kajian Epidemiologis, Pemkot Bogor telah mengadakan focus group discussion (FGD) untuk meminta masukan dari semua kalangan, seperti akademisi, pengusaha, para ahli dan dari berbagai elemen di Kota Bogor. “Kami meminta masukan untuk rumusan PSBB atau pasca PSBB ke depan. Pemkot merekomendasi kajian dari pakar epidemiologis UI.

“Pada intinya yang disampaikan Pakar Epidemiologis adalah bahwa apabila tren PSBB tahap ketiga di Kota Bogor sudah dikatakan landai, pertumbuhan kasus positif makin minim dan juga angka reproduksi atau reproductive number (RO) virus corona di bawah satu, maka Kota Bogor bisa untuk memulai memasuki fase baru pasca PSBB,” tandasnya.

Ia menyatakan, berdasarkan data yang dipaparkan oleh Dinas Kesehatan Kota Bogor, tercatat ada penambahan 15 kasus positif sepanjang penerapan PSBB tahap pertama. “Lalu PSBB tahap kedua ada kasus positif 14 yang disampaikan berdasarkan kejadian, bukan laporan. PSBB tahap ketiga kemarin ada 5 positif. Jadi, ada fase yang semakin melandai dan RO-nya 0,74 (di bawah 1),” katanya.

“Jadi bisa disimpulkan bahwa kontaminasi di Kota Bogor relatif sudah bisa dikendalikan. Tantangan terbesar adalah di arus mudik yang masuk ke Kota Bogor.  Karena itu dengan hasil seperti ini, yang harus dilakukan oleh Pemkot Bogor adalah mempertahankan secara ketat protokol kesehatan sembari memastikan tidak ada penularan baru.

 

Tim PolBo  l  Jacky.W

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *