NUSANTARA

Lima Politikus Golkar Incar Kursi Ketua DPR RI

17-12-2017 08:01
229 Views

Ketua DPR RI, Setya Novanto | Tempo.co

JAKARTA – Kasus hukum yang menimpa Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto, membuka peluang sejumlah politikus Partai Golkar untuk merebut kursi Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPRI). Ada lima politikus yang sudah mengambil ancang-ancang menggantikan jabatan Setya Novanto.

Mereka menilai jabatan Ketua DPR tidak efektif setelah Setya berstatus tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi dalam kasus korupsi proyek kartu tanda penduduk berbasis elektronik (e-KTP).

Mereka yang disebut-sebut bersiap menduduki kursi Ketua DPR adalah Ketua Komisi Hukum DPR Bambang Soesatyo, Ketua Badan Anggaran DPR Aziz Syamsuddin, Ketua Komisi Pemerintahan DPR Zainuddin Amali, Koordinator Bidang Kepartaian Golkar Kahar Muzakir, serta Sekretaris Fraksi Golkar Agus Gumiwang Kartasasmita.

Partai Golkar, Nurdin Halid, tak membantah bahwa nama-nama tersebut merupakan calon kuat pengganti Setya. Meski begitu, Nurdin tak mau menyebutkan nama yang paling berpeluang. “Golkar memiliki banyak kader yang potensial,” kata Nurdin seperti dikutip dari www.tempo.co di kantor DPP Golkar di Slipi, Jakarta, Senin 20 November 2017.

Golkar akan menggelar rapat pleno untuk membahas penarikan Setya dari Ketua DPR. Selanjutnya, Golkar akan membahas nama calon yang akan diajukan ke DPR. “Kami akan mengisi pengganti Ketua DPR pada pekan ini,” kata Nurdin.

Selain membahas calon Ketua DPR, menurut Nurdin, rapat pleno Golkar akan menentukan nasib Setya di partai. Rapat pleno bisa memilih opsi menunjuk pelaksana tugas ketua umum. Opsi lainnya, partai bisa menggelar musyawarah nasional luar biasa untuk memilih ketua umum.

Ketua Dewan Pakar Golkar, Agung Laksono, menuturkan partai harus melakukan banyak hal sebelum menentukan calon Ketua DPR, misalnya melihat latar belakang calon. Menurut Agung, calon Ketua DPR yang diajukan Golkar tak boleh memiliki masalah hukum atau sedang beperkara hukum. Syarat lainnya, calon harus rajin menjalankan tugas partai dan tugas di DPR. “Ini penting agar tak menjadi masalah di kemudian hari,” katanya.

Adapun Sekretaris Jenderal Golkar Idrus Marham mengklaim Setya telah legowo kehilangan kekuasaannya sebagai Ketua DPR dan Ketua Umum Golkar. “Dia mengikhlaskan semua,” ujarnya. Tapi, Idrus melanjutkan, pergantian Ketua DPR dan ketua umum partai harus sesuai dengan mekanisme. Penggantian itu, kata dia, seharusnya bukan karena desakan dari internal partai atau karena tuntutan dari partai lain.

Menanggapi penyebutan namanya sebagai calon Ketua DPR, Aziz Syamsuddin mengatakan tidak mau berandai-andai. Menurut dia, saat ini posisi Ketua DPR dan Ketua Umum Golkar masih dijabat Setya. “Status hukum Setya belum tetap, masih bisa menang praperadilan,” katanya.

Kahar enggan berkomentar ihwal pergantian Setya Novanto sebagai Ketua DPR. “Nanti saja,” katanya.

Adapun Bambang Soesatyo, ketika ditanya, hanya mengirim pesan bergambar muka sedih. Sedangkan Agus Gumiwang tak merespons permintaan konfirmasi. Hanya Zainuddin Amali yang sebelumnya menyatakan bersedia. “Jika partai memberi tugas, saya siap,” kata dia kepada Tempo.

 

ARIE SURBAKTI | TEMPO.CO | AS