RANAH

Mahasiswa Demo Tuntut Keadilan Korban Jalan Berlubang di Tegar Beriman

17-12-2017 07:55
68 Views

 

Mahasiswa PMII melakukan demo menuntut keadilan atas korban kecelakaan karena jalan berlubang di Tegar Beriman | Andina

CIBINONG – Sikap tak peduli Pemerintah Kabupaten Bogor terhadap Samsul Arifin, Aktivis PMII Universitas Djuanda Bogor, yang menjadi korban kecelakaan akibat jalan berlubang di Jalan Tegar Beriman, Cibinong, membuat geram kalangan mahasiswa.

Untuk itu, mahasiswa menuntut keadilan dan kepekaan Bupati Bogor dan Pemkab Bogor terhadap rakyat, yang menjadi korban buruknya infrastruktur publik. Dalam demo yang digelar pada Kamis, 30 Nopember 2017, puluhan mahasiswa mendesak Bupati Bogor dan Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (PUPR) bertanggung-jawab.

“Sampai sekarang belum ada respon apapun dari pemerintah daerah. Kami akan terus turun ke jalan, melakukan aksi sampai ada respond an tanggung-jawab dari pemerintah,” kata Koordinator Lapangan Aksi Demo, Ahmad Maulana Fajar kepada polbo, kemarin.

Menurut mahasiswa, sampai sekarang jalan protokol Tegar Beriman di Ibukota Cibinong, masih dipenuhi lubang. Misalnya depan Mal CCM. Seharusnya, pemerintah peka dan segera memperbaiki jalan tersebut. Apalagi, sudah ada korban kecelakaan dan bahkan nyaris merenggut nyawa mahasiswa aktivis PMII Unida.

“Kecelakaan yang disebabkan oleh jalanan berlubang menjadi sumber masalah, seharusnya sudah diatasi. Jalan rusak itu akibat kelalaian yang dilakukan oleh Pemkab Bogor,” tegas Ahmad Maulana Fajar.

Adapun Kuasa hukum Samsul Arifin mengatakan, terkait somasi I, II dan III, tidak pernah diberikan haknya oleh Bupati Bogor ataupun Dinas PUPR Kabupaten  Bogor. Makanya, aktivis mahasiswa menyatakan sikap untuk melakukan aksi solidaritas, diantaranya PMII Universitas Djuanda dan PMII Universitas Pakuan.

Aktivis PMII lainnya, Ajat menyatakan, aksi  demo kepada Pemkab Bogor merupakan teguran mahasiswa atas kurang respond dan pedulinya pemerintah terhadap rakyat. Selain itu, Pemkab Bogor juga terkesan arogan dengan mengabaikan surat somasi. Selian itu, aksi unjukrasa tersebut merupakan bentuk  solidaritas terhadap Samsul Arifin.

“Dinas PUPR harus secara sadar dan menghormati supermasi hukum. Bukan, mempermainkan kewenangan.  Sudah jelas banyak jalanan yang berlubang parah, masih saja dibiarkan. Apa harus menunggu tumbal barulah jalan diperbaiki,” tegas Ajat.

Mahasiswa juga mendesak Kepolisian Resor Bogor bertindak aktif untuk melakukan proses penyelidikan dan penyidikan guna menemukan pelaku kejahatan pelanggar UU No. 22 Tahun 2009 tentang LLAJ. “Besar harapan kami untuk menegakkan supermasi hukum, penjarakan pelaku pelanggar undang-undang, dan tingkatkan kesejahteraan fasilitas umum untuk masyarakat kabupaten bogor,” pungkas Ajat.

 

VIRNA SUSILAWATI | HASNAH NADIYA | ANDINA R.S | AS