Memaknai Puasa dan Idul Fitri Di Tengah Pandemi Corona

AvatarPosted on at 03:43
18 0

Oleh  : M Rusly Prihatevy, SE  (Ketua Fraksi Golkar DPRD Kota Bogor)

Meski pandemi virus Covid-19 belum mereda, namun umat muslim di seluruh dunia juga harus mempersiapkan diri menjalani puasa di bulan suci Ramadhan. Bukan tidak mungkin bahwa Ramadhan 2020 akan terasa asing, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Ibadah puasa yang diadakan dari fajar hingga senja selama bulan Ramadhan kemarin, adalah salah satu dari lima rukun Islam. Dalam masyarakat muslim, bulan ini selalu menjadi waktu untuk menjalani ibadah dalam membersihkan diri dan menahan segalanya dari yang membatalkan puasa.

Namun, menurut himbauan dari pemerintah, masyarakat harus menerapkan social dan physical distancing selama pandemi virus Covid-19 ini sehingga membuat masyarakat tidak dapat lagi berkumpul untuk berbuka bersama, seperti Ramadhan di tahun-tahun sebelumnya.

Meski begitu ada banyak hal yang tetap bisa kita lakukan selama menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan. Kesedihan akibat pandemi itu, tidak seharusnya menghilangkan suka cita kita menyambut dan menjalankan ibadah selama Ramadhan, sebab meski harus menjaga jarak sosial atau bahkan sedang dalam masa karantina, banyak hal yang harus kita maknai terkait Ramadhan di tahun ini, seperti memaknai beberapa hal berikut ini yang mungkin belum sempat dilakukan.

Merangkul kenyataan

Mengeluh sepanjang hari tentang realitas suram pandemi Covid-19 tidak akan mengubah keadaan. Orang dapat menghabiskan waktu untuk merenungkan tentang bagaimana beberapa negara berhasil mengendalikan virus tersebut. Hingga hari ini mungkin banyak dari kita yang terus mengkhawatirkan peningkatan orang-orang yang telah terinfeksi dan meninggal di seluruh dunia.

Bukan berarti berhenti, mengeluh mungkin merupakan sifat manusia, tetapi realisme adalah jalan yang harus ditempuh. Virus ini masih di depan mata kita dan kita harus terus tinggal di rumah hingga waktu yang belum bisa dipastikan, guna membantu memutus rantai penyebaran virus tersebut. Jadi, daripada mengeluh sepanjang waktu, cobalah untuk menerima keadaan.

Tahun ini, umat islam di seluruh dunia tidak dapat mempraktikkan membaca Al-Quran satu sama lain di masjid atau tarawih, tapi apa baiknya ? kita mendapat banyak waktu untuk istirahat serta beberapa peluang mengejutkan lainnya. Ramadhan tidak hanya tentang puasa dan makanan berbuka puasa, tetapi juga merupakan waktu untuk bertaubat.

Ketika pandemi COVID-19 berlanjut, mengambil tindakan pencegahan akan terus menjadi kewajiban untuk sementara waktu. Marilah Kita Mengusahakan Hidup Bersih, dengan Mencuci tangan, Menggunakan Masker dan mengindari kerumunan dengan menjaga jarak (Social Distancing dan Physical Distancing), adalah Kunci agar kita terhindar dari keganasan virus corona itu.

Tetap merayakan

Ramadhan adalah waktu sepanjang tahun yang dinantikan oleh semua muslim. Setiap muslim di seluruh dunia telah menunggu 30 hari yang indah untuk berhubungan kembali dengan Allah. Jika kita melihat keadaan dunia saat ini dari sudut pandang agama, tahun ini, selama Ramadhan dalam karantina mandiri dapat menjadi hal pertama dan terpenting yang harus tetap disyukuri.

Misalnya, meski saat tinggal di rumah, semua orang harus terus mematuhi aturan kebersihan. Alih-alih pergi ke restoran mewah untuk berbuka puasa bersama yang mahal, nyatanya semua orang dapat membuat pesta mereka sendiri di rumah. Sekali lagi dari sudut pandang agama, berhemat sudah menjadi salah satu dari banyak ajaran islam, jadi hal-hal seperti ini juga bisa menjadi kesempatan untuk merefleksikan beberapa kebiasaan yang mungkin berlebihan.

Shalat Ied

Kemudian setelah 30 hari kita melaksanakan kewajiban ibadah tersebut walau dengan keprihatinan, maka masuklah kita pada hari Kemenangan. In Syaa Allah segala kesalahan kita, dosa-dosa kita terhapuskan oleh kesabaran kita selama bulan Ramadhan melalui ibadah puasa. Takbir, Tahmid dan Tahlil, di malam menyambut Hari Kebebasan setelah menjalani 30 hari puasa itu, kita kumandangkan namun hanya dari rumah masing-masing, karena lagi-lagi kita diharuskan menjauhi kerumunan walau di masjid sekalipun.

Dan pada hari yang telah ditentukan yakni Idul Fitri ini bertepatan dengan tanggal 1 Syawal 1441 Hijriyah, kita semua akan merayakannya melalui kebersamaan dengan keluarga dan orang-orang terkasih di rumah. Taka da waktu untuk berkunjung ke kampong menemui orang tua, sanak saudara dan handai taulan disana untuk saling bermaaf-maafan sekaligus berbagi kebahagiaan.

Sebaik dan seburuk apapun resiko dalam kesedihan di hari yang fitri ini, kita syukuri saja karena hanya Allah SWT yang memiliki Kesempurnaan. Jabat tangan dan pegang erat Tali Kasih Kecintaan kita pada Keluarga, Sahabat dan jangan lupakan untuk tetap Meng-Agungkan Nama Allah SWT agar kita Senantiasa Diberi Kesehatan, Keberkahan, Dijauhi dari segala Bencana dan Usia panjang tentunya agar kita dapat bertemu dengan Ramadhan di tahun-tahun yang akan datang. Aamiin Aamiin

“Taqaballahu minna wa minkum” Minal Aidin Walfaidzin – Mohon Maaf Lahir dan Bathin.

 

 

 

Related Post

Perlunya Reformasi Birokrasi

Posted by - 05/11/2017 0
PERAN pemerintah daerah merupakan salah satu syarat mutlak dalam era kebebasan dan keterbukaan seperti sekarang ini. Dalam penyusunan program-program pembangunan,…

Jaro Ade Pilihan Tepat Rakyat

Posted by - 18/04/2018 0
PILKADA serentak yang digelar pada tanggal 27 Juni tahun ini akan diselenggarakan di 171 daerah se Indonesia. Salah satunya yaitu…

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *