ROMANSA

Menyedihkan, Rakyat Negara Ini Harus Berebutan Gas Agar Bisa Memasak

17-12-2017 08:03
61 Views

Ratusan warga Cibinong antri mendapatkan gas 3 kilogram | Herry Setiawan

KASUS menghilangnya gas elpiji ukuran 3 kilogram dalam sepekan terakhir menjadi kisah sedih para ibu rumah tangga di negara ini. Banyak warga yang terpaksa membeli makanan siap saji, karena tidak bisa memasak. Meski pemerintah pusat melalui pertamina menggelar operasi pasar, namun ratusan atau mungkin ribuan ibu-ibu harus rela antri.

Misalnya operasi pasar di Jalan Guru Suma RT 1 RW 4 Kelurahan Cibinong Kecamatan Cibinong, Selasa 5 Desember 2017.  Pertamina mengguyur daerah ini dengan sebanyak 571 buah gas ukuran 3 kilogram.  Warga yang sudah berhari-hari tak memasak pun harus rela mengantri untuk mendapat sebiji tabung gas.  Tidak hanya kaum hawa, para lelaki dan anak-anak muda pun terlihat dalam antrian.

“Operasi pasar gas 3 kilogram ini adalah respon cepat Pemkab Bogor untuk mengantisipasi kelangkaan gas yang sudah terjadi hampir seminggu terakhir,” kata Ketua RT 1 RW 4 Udin Jalu yang juga Ketua PK Golkar Kecamatan Cibinong kepada polbo, tadi siang.

Pria yang akrab disapa Bang Jalu ini menambahkan, dirinya telah dipercaya oleh Hiswana Migas Cibinong untuk mendistribusikan gas 3 kilogram khususnya di wilayahnya. “Operasi pasar gas 3 kilogram ini sudah seringkali dilakukan di wilayah ini. Alhamdulillah memang masyarakat sangat membutuhkan gas sebagai bagian dari pengganti bahan bakar minyak tanah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” tandasnya.

Wakil Sekretaris DPD Partai Golkar Kabupaten Bogor, Januari Aquarta menambahkan, operasi pasar seperti ini sangat dibutuhkan masyarakat. “Kalau perlu responnya lebih cepat lagi sehingga tidak sampai satu minggu langsung ada operasi pasar agar tidak terjadi kelangkaan gas di tengah masyarakat,” kata tokoh pemuda Cibinong yang juga santri di Pondok Pesantren Al Hikam Cibinong ini.

Pria yang akrab disapa Yanuar ini menambahkan, jika memang ada anasir negative terhadap kelangkaan gas adalah tindakan disengaja pihak tertentu, pria jebolah UIN Syarif Hidayatullah ini menyatakan tidak setuju. “Saya yakin pemerintah tidak sejahat itu. Kelangkaan terjadi karena permintaan di masyarakat meningkat karena ada libur panjang kemarin,” tandasnya.

 

HERRY SETIAWAN| AS