PWI Kota Bogor, Ciptakan Kualitas Wartawan Profesional

32 0

Bogor Menulis berita bukan sekadar mencurahkan isi hati. Sebuah berita harus dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, aktual, dan informatif. Tidak seperti menulis karangan yang mendayu-dayu. Kualitas berita tentu harus memenuhi kriteria umum penulisan, yaitu 5W+1H yang sudah menjadi ‘sego jangan’ (di luar kepala) buat seorang wartawan. Selain syarat tersebut, sebenarya masih banyak syarat yang juga wajib dimengerti oleh seorang wartawan.

Hal itu menjadi landasan salah satu organisasi wartawan yang di akui pemerintah, yakni, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Bogor untuk menciptakan calon anggotanya menjadi insan pers yang profesional.

Melalui Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) yang bertajuk “Memahami produk jurnalistik, menjalankan kode etik ditengah kemerdekaan pers”, PWI Kota Bogor berkolaborasi dengan PWI Jawa Barat sukses melatih 35 wartawan calon anggota muda dari Kota dan Kabupaten Bogor di Bogor Valley Hotel (31/10).

Ketua PWI Kota Bogor, Arihta Utama Surbakti menjelaskan, selain sebagai bentuk pendidikan dan pelatihan bagi para wartawan. Kegiatan OKK tersebut, lanjutnya, juga merupakan wawasan bagi para peserta untuk mengetahui lebih dalam yang berkaitan dengan organisasi PWI.

Sehingga, tambahnya, nantinya teman-teman wartawan mengetahui apa itu manfaat dan untuk apa di PWI Kota Bogor. Jadi tidak asal masuk, yang terpenting adalah teman-teman mengetahui adanya Peraturan Dasar (PD) dan Peraturan Rumah Tangga (PRT).

“Karena itu ada ujian yang harus dijalani dan merupakan syarat mutlak. Saya harap teman-teman yang ditunjuk saat ini dan ikut serta teman-teman yang sudah bekerja di media mainstream. Sehingga tidak kesulitan dalam menulis berita. Semoga teman-teman tidak ada kesulitan dalam OKK,” ujarnya.

Wali Kota Bogor Bima Arya mengatakan, dirinya ingin sedikit fokus pada ulasan tentang persamaan atap antara wartawan dan politisi. Karena pekerjaan itu terbagi dua, yaitu satu orientasinya pada pencaharian dan pekerjaan pengabdian.

“Sepanjang sejarah politisi dan wartawan masuk dalam pengabdian. Saat orang bercita-cita menjadi politisi dan wartawan orientasi sejatinya kepada pengabdian. Dalam sejarah terjadi irisan politisi menjadikan jurnalis menjadi sarana perjuangan. Tidak sedikit juga jurnalis menjadi politisi dan berkiprah dipolitik,” ujarnya saat dihadapan para peserta OKK.

Bima menjelaskan, dalam perjalanan banyak hal berbeda karena tantangan yang cenderung bergeser kepada mata pencaharian. Dari mulai kiprah awal dari pendahulu politisi dan wartawan marwahnya dijaga sampai diujung.

“Karena mereka berhasil menjaga idealisme dan pragmatisme, wartawan idealisme tapi owner-nya Politisi karena bisanjadi wartawan hatinuraninya A tapi perintah owner B bertentangan dengan owner. Kadang juga ada kejadian karena kerabat, teman sodara dan kolega. Mereka menitip berita karena kepentingan dan cair,” seloroh Bima, disambut riuh tepuk tangan para hadirin.

Politisi PAN itu juga menegaskan, tidak mudah sekarang politisi dan wartawan diancam sektarian, promodia serta Suku, Adat, Ras dan Agama (SARA). Banyak politisi memainkan isu SARA, tetapi harus ada kemampuan media menjadikan edukasi secara presisi.

“Jangan sampai yang penting eksis dahulu. Masalah akurasi dan fakta belakangan. Kalau tidak mampu berkreasi termakan arus, bagaimana dunia digital mengancam televisi besar ini menunjukkan inovasi kreasi. Bagaimana mana ada Narasi televisi saat ini,” ungkapnya.

Lebih dalam, Bima mengusulkan, dengan adanya OKK ini bisa menjadikan bagaimana media menjadi pilar demokrasi. Kalau ada kepala dinas manipulasi asal base nya nurani dirinya dukung temen-temen kritis, tetapi kalau teman-teman wartawan bermain saya bela kepala dinas.

“Insya Allah godaan, tantangan dan peluang sama antara politisi serta wartawan. Karena itu ada penguatan kapasitas PWI Kota Bogor, sama hal nya seperti lurah, camat dan kepala dinas diupgrade. Makanya kompetensi ideal itu 40 persen dan karakter 60 persen. Karena itu saya selalu bercerita tokoh-tokoh pemimpin saat briefing staff,” tuturnya.

Ia berharap, kedepan wartawan Kota Bogor menjadi wartawan idealis. Dirinya apresiasi dibawah Arihta Utama Surbakti bukan sekedar berdiri, tapi berlari kelihatan dari aktivitas dan kegiatan yang ada.

“Mudah-mudahan Kota Bogor akan mengorbitkan legenda jurnalis. Pemkot Bogor siap bersinergis,” pintanya.

Tim PolBo  l Yudha Prananda/Pin

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *