IMPRESI

Wisata Puncak dan Realitanya

19-01-2018 23:16
251 Views

Ade Wardhana Adinata bersama anak-anak dari sebuah perkampungan di Kabupaten Bogor | Facebook

PADA suatu hari, saya pernah berbincang dengan rekan-rekan media cetak dan elektronik di salah satu restoran di kawasan Cisarua Puncak. Kita berdiskusi tentang Kabupaten Bogor, khususnya kawasan wisata Puncak, sambil menunggu makan siang yang disajikan oleh pelayan restoran tersebut.

Setelah banyak berdiskusi sampailah pada pembahasan mengenai angka harapan sekolah di Kabupaten Bogor yang jauh tertinggal dibandingkan dengan Kabupaten Pangandaran. Di Kabupaten Pangandaran, angka harapan sekolah anak sampai kelas 12. Sedangkan di Kabupaten Bogor hanya sampai kelas 7.

Pelayan restoran itu seorang anak perempuan berusia 14 tahun, tergerak saya untuk menanyakan apakah dia tidak sekolah? Lalu anak perempuan pelayan restoran itu menjawab bahwa dia sudah putus sekolah pada saat kelas 7 SMP dan sekarang bekerja menjadi pelayan restoran tersebut. Saya kemudian bertanya alamat tempat tinggalnya, dia menjawab tinggal di Desa Citeko Kecamatan Cisarua

Sangat miris melihat kenyataan wisata Puncak tidak membawa dampak positif bagi kehidupan masyarakat sekitar. Anomali ini terjadi disaat pendidikan bagi masyarakat yang seharusnya menikmati potensi daerahnya agar dapat meningkatkan taraf hidup, seperti pendidikan, kesehatan ternyata malah sebaliknya.

 

(Catatan yang diposting di akun Facebook Ade Wardhana tanggal 1 Januari 2018)