- Advertisement -
Advertising
Beranda IMPRESI Diantara Covid-19, Alam dan Imun Manusia dari Tumbuhan

Diantara Covid-19, Alam dan Imun Manusia dari Tumbuhan

Oleh  :  Jacky Wijaya (PolBo)

Benarkah, merebaknya virus corona (Covid-19) terjadi akibat adanya virus buatan atau akibat kerusakan alam yang dilakukan oleh manusia itu sendiri ? Selain akibat perbuatan manusia itu, hal lain terkait merebaknya virus dapat terjadi akibat penularan yang dilakukan oleh hewan penyebar. Karena wabah virus tersebut telah menghilangkan banyak jiwa, akibat lemahnya imun manusia, maka seperti raja-raja dahulu mengisyaratkan kalau beberapa tumbuh-tumbuhan ternyata dapat menguatkan imun manusia sehingga terhindar dan bebas dari serangan berbagai penyakit yang dihasilkan oleh virus.

Dalam sebuah catatannya, Dr. Enric Sala, seorang ahli ekologi kelautan yang tergabung dalam Campaign for Nature National Geographic, menyatakan apabila manusia terus merusak alam liar, maka wabah virus COVID-19 bukan merupakan hal yang terakhir menjadi pandemi, yang akan dihadapi manusia. “Saya benar-benar yakin bahwa akan ada lebih banyak penyakit seperti ini di masa depan jika manusia terus menghancurkan alam, menggunduli hutan, menangkap binatang liar untuk menjadikannya peliharaan, makanan, atau obat-obatan,” kata Sala, yang dikutip Kompas.

Sementara itu, David Quammen, penulis buku Spillover Animal Infections and the Next Human Pandemic, dalam berita yang sama mengatakan, “Ketika kita menghancurkan hutan tropis, dan menggantikannya dengan menjadikan sebuah desa, kota, pertambangan, membunuh atau menangkap hewan liar untuk dimakan, kita membuka diri terhadap virus-virus itu,” tandasnya.

Jika mengurai pada masa abad ke-7, seperti yang diungkap sejarah, menurut Sri Jayanasa, Raja Kedatuan Sriwijaya, beliau sudah berpesan kepada manusia agar terhindar dari berbagai penyakit. Apa wasiatnya? Manusia harus memperlakukan alam untuk kebaikan semua makhluk hidup.

Hal pesan Raja Kedatuan Sriwijaya itu diperkuat lagi oleh Dr. Yenrizal Tarmizi, pakar komunikasi dari UIN Raden Fatah Palembang, kepada Mongabay Indonesia

yang mengatakan bahwa “Memperlakukan alam untuk kebaikan semua makhluk hidup, saya pahami sebagai upaya menjaga keseimbangan alam. Jika sebaliknya atau bertentangan dengan hal tersebut, maka manusia pun akan hidup menderita dengan berbagai penyakit atau hidup tidak bahagia,” katanya

Penyakit karena masalah lingkungan

Bahkan menurut Sugiyono Saputra, PhD, peneliti mikrobiologi dari LIPI,.hubungan antara penyakit dengan lingkungan dinyatakan bahwa “Sebagian besar penyakit timbul karena masalah lingkungan. Kemudian, 60 persen penyakit infeksi merupakan penyakit zoonosis atau berasal dari hewan dan lebih dari dua per tiga berasal dari satwa liar,” kata Sugiyono.

Kalau kita berpikir asal-usulnya, kenapa ini bisa terjadi penularan dari satwa liar tersebut ke manusia ? Atau kenapa patogen yang seharusnya ada pada satwa liar bisa berpindah ke manusia ? Artinya pasti ada sesuatu yang “melanggar perbatasan” dan apa penyebab sebenarnya ? Menurutnya, “Berdasarkan hasil analisis berbagai penelitian, sejumlah penyakit baru yang muncul ternyata dikontribusikan oleh aktivitas yang dilakukan manusia itu sendiri terhadap alam, terutama perambahan ke kawasan liar seperti hutan dan perubahan dalam demografi manusia,” jelasnya.

Baca Juga :  71 Tahun HMI Mengabdi Melayani Negeri

“Berdasarkan hasil analisis berbagai penelitian, sejumlah penyakit baru yang muncul ternyata dikontribusikan oleh aktivitas yang dilakukan manusia itu sendiri terhadap alam, terutama perambahan ke kawasan liar seperti hutan dan perubahan dalam demografi manusia,” jelasnya.

Contohnya, Lyme disease di Amerika Serikat timbul karena berkurangnya habitat satwa liar akibat fragmentasi hutan. Berkurangnya populasi predator seperti serigala, rubah, dan elang ternyata membuat populasi tikus meningkat tajam, yang merupakan reservoir bakteri penyebab penyakit Lyme. Penyebarannya ke manusia dilakukan melalui kutu.

Tanaman bagi Kesehatan

Sudah sejak zaman dahoeloe kala, menurut nenek moyang dari negeri manapun, ternyata berbagai tanaman merupakan kontributor terbesar yang dapat digunakan sebagai obat dan pencegahan berbagai penyakit termasuk yang dihasilkan oleh berbagai virus. Dr. Yenrizal Tarmizi, pakar komunikasi dari UIN Raden Fatah Palembang juga membaca jika berbagai tanaman yang disebut dalam Prasasti Talang Tuwo seperti kelapa, pinang, aren, sagu, dan bambu, juga memiliki manfaat bagi kesehatan.

Baca Juga :  SEBAGAI PRESIDEN, JOKOWI SAATNYA GUNAKAN WEWENANG KONSTITUSIONAL UNTUK NEGARA

Buah kelapa, misalnya, menghasilkan minyak yang sangat sehat bagi tubuh manusia. Virgin Coconut Oil (VCO) ternyata mampu mencegah berbagai penyakit, membunuh bakteri dan virus, termasuk juga dapat mencerdaskan otak.

Selain itu Buah Pinang, juga memiliki fungsi yang sama bagi kesehatan, seperti mencegah kerusakan gigi hingga penyakit skizofrenia. Sementara itu Rebung Bambu, selain memberikan kesehatan bagi tubuh manusia juga meningkatkan kekebalan tubuh (imun) sehingga terhindari dari berbagai penyakit.

“Besarnya peranan dan fungsi tanaman yang disebutkan Raja Sriwijaya bagi kesehatan manusia, hingga hari ini masih ditemukan berbagai kuliner yang berbahan dari tanaman tersebut. Meskipun akhirnya, muncul juga berbagai bahan makanan baru yang tidak sehat, menggantikannya,” kata Yenrizal.

Inti dari pesan Raja Sriwijaya tersebut, kata Yenrizal, manusia harus menjaga Bumi dari kerusakan, sehingga manusia hidup sehat dan berusia panjang. “Mungkin virus COVID-19, dan virus-virus  sebelumnya, menghasilkan manusia yang lebih kuat imunnya terhadap berbagai penyakit. Tapi, manusia-manusia yang tetap hidup bukan berarti aman dari berbagai penyakit atau serangan virus baru jika Bumi terus dirusak,” kata Yenrizal.

“Solusinya, seperti yang dikatakan Raja Sriwijaya jika alam ini digunakan untuk kebaikan semua makhluk hidup. Lingkungan yang baik, lestari, maka akan jelas menghasilkan pangan yang sehat atau berkualitas,”

 

“Perangi Covid-19 dengan Pakai Masker – Sering Cuci Tangan dengan Sabun – Hindari Kerumunan dan Makan Makanan Bergizi”

 

 

- Advertisement -

Stay Connected

16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Must Read

Pemkot Ambil Paksa Pengelolaan Pasar Induk TU

Bogor  -  Geram terhadap pengelolaan pasar induk Teknik Umum (TU) di Kelurahan Cibadak, Tanah Sareal, yang masih belum juga diserahkan pihak PT Galvindo, membuat...
- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Related News

Pemkot Ambil Paksa Pengelolaan Pasar Induk TU

Bogor  -  Geram terhadap pengelolaan pasar induk Teknik Umum (TU) di Kelurahan Cibadak, Tanah Sareal, yang masih belum juga diserahkan pihak PT Galvindo, membuat...

Presiden Tinjau Langsung Vaksinasi Di Kota Bogor

Bogor -    Presiden RI, Joko Widodo dalam kunjungan kerjanya Jumát (19/3) kemaren melakukan peninjauan langsung proses vaksinasi Covid-19 masal bagi pelayan publik dan lansia...

Neraca Keuangan Indocement Kuat Tanpa Hutang Bank

Jakarta  -  Indocement sebagai salah satu produsen semen terbesar di Indonesia, dengan karyawan sekitar 5.000 orang  di 13 pabrik berkapasitas produksi tahunan sebesar 24,9...

Tingkat Kesembuhan Pasien Covid-19 Di Bogor 91 Persen

Bogor – Ditengarai dengan sudah dilaksanakannya vaksinasi, maka jumlah pasien COVID-19 di Kota Bogor, yang dinyatakan sembuh secara keseluruhan hingga Minggu ini mencapai 11.796...

DPRD : Perubahan APBD Harus Lebih Terarah

Cibinong -   Guna mencegah ketidak-jelasan arah dalam menyusun perubahan parsial pada APBD 2021, dewan mengingatkan agar pemerintah kabupaten (Pemkab) Bogor dibawah kepemimpinan Ade Yasin,...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here