- Advertisement -
Advertising
Beranda IMPRESI Maggot Umar Jurus Jitu Entaskan Kemiskinan Tani Ternak

Maggot Umar Jurus Jitu Entaskan Kemiskinan Tani Ternak

Oleh  :  Herry Setiawan / Pemerhati Pertanian

 

Di tengah pandemi Covid-19 sektor pertanian tetap berjalan seiring dengan kebutuhan pangan masyarakat. Namun para petani ternak tetap terjerumus dalam lingkaran setan kemiskinan karena kebutuhan pakan ternaknya tetap melebihi kebutuhan pangan peternak dan keluarganya.

Maggot atau sejenis larva atau belatung dari telur lalat Black Solid Fly (BSF) dapat menjadi alternatif pakan ternak segala jenis yang menjadi tumpuan memutus lingkaran setan kemiskinan petani ternak Indonesia. Lantas kenapa Maggot yang dikreasikan Umar Hamzah (57) peternak dan pembudidaya ikan asal Kemang Kabupaten Bogor menjadi jurus jitu entaskan kemiskinan? Berikut ulasannya.

Siang itu, Umar Hamzah tetap berkutat di lahan milik anaknya dan di atas lahan milik Rumah Sehat Terpadu yang dikelola Dhompet Dhuafa yang dikelola Pak Umar. Tanpa sarungtangan dengan pakaian seadanya, Pak Umar sedang memanen ribuan belatung untuk dijadikan campuran pakan ternak ayam dan ikan. Berbekal mesin pembuat pakan dari Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor yang tidak terpakai di kelompok pembudidaya ikan di kecamatan lain, Umar memanfaatkannya dengan optimal.

Pak Umar yang tergabung dalam Kelompok Pembudidaya Ikan Pintu Air mengulik sendiri formula pembuatan Maggot dari informasi yang didapat sebelumnya pada saat ajang inovasi pangan di Bogor. Kenapa mengutak-atik sendiri? Tidak ada pihak yang mengajarkan langsung cara membudidayakan Maggot ke Pak Umar. Meskipun Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memiliki fasilitas mewah cara budidaya Maggot di Balai Pembenihan Ikan Hias (BPIH) di Depok, namun itu tidak aksesible bagi petani miskin seperti Pak Umar.

Untuk menembus tehnik budidaya di fasilitas pemerintah tersebut, Pak Umar musti berkirim surat melalui Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor, itupun musti menanti balasan surat dari BPIH hingga batas waktu 3 bulan ke depan. Akhirnya, Pak Umar bertekad memelajari budidaya Maggot yang didorong kebutuhan pakan harian ikan dan ayamnya. Berbekal membeli bakal lalat BSF dari daerah lain melalui toko online, Pak Umar meneliti selama 7 bulan hingga akhirnya mampu membudidayakan Maggot dengan cara khasnya.

Baca Juga :  Quo Vadis Advokat Indonesia

Di negara lain, Maggot menjadi solusi mengatasi sampah organik dan dijadikan bahan baku kosmetik serta obat-obatan. Tapi di Indonesia, budidaya Maggot diciptakan secara eksklusif dan mewah seolah bukan untuk diberikan ke petani ternak miskin dan sektor menengah. Hanya untuk skala industri padat modal kaum berdasi demi profit semata. Negara belum berpihak pada rakyatnya yang terjerumus di belenggu kemiskinan. Di Thailand, Maggot sudah dijadikan makanan alternatif bagi manusia yang menyehatkan, tentunya dengan teknik budidaya higienis. Singapura menjadikan Maggot solusi mengatasi sampah organik dan dijadikan bahan baku obat dan kosmetik.

Belum berapa lama, Pemkot Bogor bersama Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo melepas ekspor Maggot kering ke Inggris. Ini jelas dimiliki pemodal kuat yang menguntungkan pemodal besar pula. Melihat itu, Pak Umar hanya tersenyum kecut. Masih banyak petani ternak khususnya di Bogor yang membutuhkan uluran tangan dirinya membantu cara budidaya Maggot. Informasi yang berserakan di sosial media hanya sebatas mimpi indah keberhasilan. Perlu kegigihan membudidayakan pakan alternatif Maggot.

Baca Juga :  Keluarga Besar Assogiri Senantiasa Menjaga Independensi

Berbekal Maggot, petani ternak sebenarnya dapat memutus matarantai ketergantungan dengan pakan pabrikan yang harganya terus melangit. Protein sebesar 47 persen yang dimiliki Maggot menjadikan pakan alternatif ini mampu menekan biaya produksi ikan konsumsi hingga 80 persen. Seperti diketahui saat ini, industri pakan ternak masih dikuasai korporasi global yang menyusup berkelindan di tengah para pemangku kebijakan. Itu menyebabkan keberpihakan pada petani miskin belum optimal. Solusi atas pakan alternatif sebenarnya terus dicari pakar bersama pemerintah, namun saat sudah ditemukan, tidak semudah membalikan telapak tangan mendapatkannya.

Kegigihan Pak Umar dalam mengembangkan pakan alternatif kini terus disebar dan ditularkan ke komunitasnya. Semua dilakukan demi keinginan untuk memajukan dunia peternakan dan perikanan di Kabupaten Bogor. Hasratnya hanya satu. Mengentaskan petani ternak dan pembudidaya ikan dari jerat kemiskinan. Mari kita dukung terus niat baik Pak Umar dalam memajukan dunia pertanian, peternakan dan perikanan di Kabupaten Bogor.  ***

- Advertisement -

Stay Connected

16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Must Read

Tarif Tol BORR Seksi 3A Dibanderol Rp. 14 Ribu

Bogor - Tol Bogor Outer Ring Road (BORR) Seksi 3A Simpang Yasmin - Kayu Manis akan segera dibuka akhir Januari 2021. Rencananya tarif tol...
- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Related News

Tarif Tol BORR Seksi 3A Dibanderol Rp. 14 Ribu

Bogor - Tol Bogor Outer Ring Road (BORR) Seksi 3A Simpang Yasmin - Kayu Manis akan segera dibuka akhir Januari 2021. Rencananya tarif tol...

Banjir Puncak ‘Mengalir’ Sampai ke DPR RI

Bogor - Bencana banjir bandang dan longsor yang menerjang kawasan Gunung Mas, Puncak, Kabupaten Bogor, Rabu (20/01) banyak disoroti sejumlah pihak dari berbagai kalangan. Peristiwa...

Bupati Bogor Jamin 674 Korban Banjir Bandang Puncak

Cisarua - Bupati Bogor Ade Yasin meninjau langsung korban banjir bandang Gunung Mas Puncak, Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Rabu (20/01). Sejumlah...

Ade Yasin Minta Tim Bekerja Cepat, Tangani Banjir Bandang

Bogor - Banjir bandang akibat meluapnya Sungai Cisampay yang menggerus Kampung Rawa Dulang, Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Selasa (19/01) Pagi, menyisakan...

Puncak Berduka Banjir Bandang Menerpa

Bogor - Banjir bandang dan tanah longsor menerjang pemukiman warga di Kampung Rawa Dulang, Komplek Gunung Mas, Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor,...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here