- Advertisement -
Advertising
Beranda IMPRESI Manusia Indonesia Seharusnya Cerdas Dulu

Manusia Indonesia Seharusnya Cerdas Dulu

SANG maha kuasa menciptakan makhluk yang dijadikanya penghuni di bumi dan menjadikanya pempimpin diantara makhluk lainya, yang biasa kita sebut sebagai “Insan Manusia”. Manusia ditebar diberbagai belahan bumi yang menjadikanya bermacam-macam ras, suku, bangsa dan agama. Keberagaman yang tercipta menjadikan dua hal yaitu polarisasi dan kompetisi, dalam hal ini akan mengakibatkan kepada kedamaian dan atau peperangan.

Polarisasi adalah satu konsep masyarakat yang beragam atau bhineka tanpa memandang perbedaan dan menganggap satu kesatuan adalah hal yang harus dijaga agar bisa mencapai kehidupan yang madani. Konsepsi ini jelaslah memiliki satu hal yang perlu dipegang erat oleh masyarakat yang menghuni satu Negara tersebut seperti Indonesia, hal tersebut adalah toleransi dalam berkehidupan didalam masyarakat dan berNegara.

Tentu saja dalam hidup ini perlu daya saing atau kompetisi untuk menjadikan daya hidup yang lebih bergairah, hanya saja jika salah dalam mengartikan konsep kompetisi akan berakibat kedalam peperangan, maka diperlukan sekali pemahaman kesederajatan manusia atau mengenai hak-hak fitrah manusia.

Indonesia adalah Negeri kaya raya akan sumber daya alamnya serta beragam bangsanya. Tujuh belas ribu pulau yang menghampar didalamnya, beribu bahasa daerahnya serta beragam budayanya yang menyatu dalam persatuan kebangsaan dengan sumpah yang dibawa oleh para pemuda pada saat sebelum kemerdekaan diraihnya. Tahun 1928, tepatnya pada 28 Oktober tercetus sumpah yang menjadi semangat kebangsaan atas sama penasiban dan merasa perlu bersatu untuk menghimpun kekuatan yang menyatakan tanah air, berbangsa, dan menjungjung bahasa persatuan yaitu INDONESIA.

72 tahun berdiri sejak tahun 1945 banyak cobaan yang dijalaninya beragam kejadian mulai dari pemberontakan ingin mengambil kekuasaan, memisahkan diri dari kenegaraan Indonesia. Pemberontakan-pemberontakan yang terjadi mampu didamaikan oleh manusia-manusia luhur di Negeri ini dengan membawa cinta dan wibawa menjadikan damai dan suka cita.

Seiring berjalanya waktu kekayaan sumber daya alam yang melimpah menjadikan Negeri ini sebagai rebutan elit global dan keserakahan anak Negeri yang mengeruk serta menjual sana-sini, bukan menjadikan alam untuk kesejahteraan atau pencapaian cita-cita bangsanya sendiri, kini malah menjadi kesejahteraan untuk bangsa lain. Mungkin lantaran Indonesia adalah tanah surga yang melahirkan manusia-manusia yang terbiasa dengan kekayaan alam, menjadikan pribadi seorang manusia Indonesia lupa haruslah mampu dalam mengolah karunia Tuhan agar tidak menjadi salah sasaran.

Realitas kehidupan masa kini di Negeri Indonesia emas di Papua untuk siapa? Minyak, batubara, mineral kemana?. Menjadi sebuah renungan tentunya. Teringat pesan Ir. Soekarno “Biarlah kekayaan alam kita tersimpan sampai nanti putra-putra bangsa ini mampu mengolahnya sendiri”. Kalimat yang dilontarkan oleh Bapak Proklamasi Indonesia amat mendalam, jika dimaknai melihat keadaan sumber daya manusia yang kala itu memang belum merata secara pendidikan dan masih banyak manusia-manusia Indonesia yang berada digaris kemiskinan dan kebodohan, maka ia lebih memilih alam Indonesia tersimpan daripada diolah tapi hanya untuk bangsa lain yang sejahtera melalui investasi asing kedalam Negeri Indonesia memang seperti terbantu lantaran mendapatkan dana.

Akantetapi bantuan yang semu yang akan diterima seperti itulah pengibaratan investasi asing yang telah menggurita kini di Indonesia. Contohnya adalah Freeport, emas yang digali di Gunung Estberg apakah mampu menjadikan Indonesia sejahtera?. Jelas tidak karena bukan Negeri ini sendiri pemiliknya, sehingga tetap diusia ke 72 tahun Indonesia selepas kepemimpinan Ir. Soekarno Indonesia berhutang kepada luar negeri, kini hutang Indonesia terhadap luar Negeri telah mencapai Rp. 4.365 triliun yang dilansir oleh Merdeka.com perApril 2017. Beban bagi kita setiap warga negera Indonesia apakah mau nasib seperti Yunani yang bangkrut akibat hutang.

Keadaan ini diakibatkan oleh pendidikan nasional yang jelas telah menyimpang dari tujuan dengan pelaksanaan, mengapa bisa menjadi pendidikan yang bermasalah, karena tumpuan atau tiang-tiang kemajuan berada dari pada sektor pendidikan yang utama. Karena dari pendidikan akan melahirkan generasi yang cerdas baik secara akal maupun budinya. Memang hingga kini jika dilihat-lihat pembangunan SDM dari dunia pendidikan seperti dinomor duakan dari hal-hal yang berbau fisik seperti kota bogor yang terlihat banyak sekali taman-taman yang dibuat tapi relalitas yang terjadi apakah pemanfaatan taman tersebut oleh warga bogor jika lain untuk tempat berkumpul kaula muda, tapi apakah lebih banyak manfaat atau modarat yang terjadi.

Lebih banyak orang berpacaran, nongkrong sambil ngopi dan merokko atau menjadikan tempat diskusi dan baca buku sehingga menjadi wadah pencerdasan, Masuk kedalam permaslahan kebijakan-kebijakan pendidikan formal yang tidak jelas di era kepemimpinan Presiden Jokowi yang saling lempar dan salahkan, seperti full day school serta kurikulum yang ada. Padahal jika kita lihat ditataran pendidik yang menjadi faktor adalah banyak pendidik yang tidak sejahtera, bayangkan saja guru honorer dibayar paling kecil adalah Rp. 300.000 dan beragam tergantung kesanggupan dari satuan pendidikan, tapi tidak akan lewat dari UMR yang ada sepertinya.

Belum lagi mengenai admnistrasi yang harus dikerjakan sehingga konsentrasi untuk mengajar mulai terbagi untuk menyelesaikan urusan perut dan keluarga dan hal yang lebih lucu belum lama ini di kabupaten bogor tepatnya di daerah kecamatan lewiliang ada Sekolah dasar roboh dan lambat gerakan dari pemkab terhadap penanganan itu hingga teman-teman BEM se-Bogor akan melakukan Audiensi dengan dinas terkait, dalam hal ini seharusnya ada pengawasan kita ketahui ada supervisi baik dari sekolah maupun dinas lalu jika permasalahanya selain dari bangunan yang memang konstruksinya kurang baik, letak geografisnyaataukah memang cuaca yang buruk. Sehingga kita menjadi lebih penasaran baik fisik maupun nonfisik yang dibangun di Indonesia seperti tidak serius saja.

Terlihat pula arus globalisasi dan modernisme yang merasuk pada diri anak bangsa, menjadi satu gaya hidup yang menyimpang dari nilai-nilai luhur yang dulu tergambar dari kehidupan bermasyarakat kita. Sehingga menghasilkam pribadi anak bangsa yang malas dan ingin hidup glamor karena tidak mendapatkan pembelajaran yang mentransfer nilai tapi hanya mentransfer pengetahuan. Artinya cita-cita pendidikan nasional yang di bawa oleh Bapak Pendidikan Indonesia yaitu Ki Hadjar Dewantara ialah “Hakikat pendidikan adalah sebagai usaha untuk menginternalisasikan nilai-nilai budaya kedalam diri anak, sehingga menjadi manusai yang utuh baik jiwa maupun rohaninya”.

Baca Juga :  Diantara Covid-19, Alam dan Imun Manusia dari Tumbuhan

Seperti yang penulis dapatkan pada seminar pendidikan dengan tema “Menggali Hakikat Pembelajaran Melalui Falsafah Pendidikan Ki Hadjar Dewantara”. Yaitu “Dengan problem pembelajaran yang hasil belajarnya belum mampu berfungsi menunjang tumbuhnya warga negara yang berkarakter, maka guru sebagai pemimpin harus bertindak Tutwuri handayani, ing madya mangun karsa dan ing ngarso sung tuladha yaitu : mengikuti dari belakang dan memberi pengaruh, berada ditengah memberi semanagat, berada di depan menjadi tauladan.

Dan pembelajaran bukan hanya alih ilmu pengetahuan saja atau transfer of knowledge, tetapi sekaligus pendidikan juga sebagai transformasi nilai (transfer of value) yang di utarakan oleh Dr. Entis Sutisna, M.Pd. beliau adalah Wakil Dekan I Bidang Akademik di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pakuan. Dengan kata lain pendidikan adalah pembentukan karakter manusia agar menjadi sebenar-benarnya manusia.

Baca Juga :  Hati-hati Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Bengkulu Triwulan II-2017 Melambat

Alam pendidikan yang biasa kita hidupi baik keluarga, sekolah, masyarakat. Dengan kebijakan pemerintah yang mengambil tindakan mengGlobalkan Indonesia dengan ikut serta dalam MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) pada awal Januari tahun 2016 memaksa untuk rakyat bersaing dengan warga asing, pemerintah seperti tanpa menilai sejauh manakah kesiapan dari warga negeranya.

Akhirnya yang terlihat adalah segala yang dikenakan bersasal dari Negeri orang walau kita tidak menafikan ada saja produk Indonesia yang menggelobal bahkan banyak kisruh tentang TKA (tenaga kerja asing) asal cina yang illegallah inilah itulah kembali lagi bagaimana bisa lolos dari pengawasan. Problematik-peroblematik yang terjadi seakan menggiring masyarakat Indonesia kearah manusia yang pahamnya adalah konsumerisme.

Artinya dalam hal ini masyarakat Indonesia yang kaya raya dalam tanda petik menjadi pribadi yang konsumtif sehingga timbul gejala sosial yang haus akan kebutuhan sekunder mungkin saja juga kebutuhan tersier sebagai contoh banyak orang yang belum mempunyai rumah sebagai kebutuhan primer (sandang, pangan, papan), tapi memiliki mobil dan hal-hal yang sekunder bahkan ada yang lebih baik tidak makan asal kuota pada gawainya terisi. Belum lagi kita pertimbangkan kembali investasi-investasi asing yang menggurita di Negeri ini seperti menghardik rakyat kecil baik dari segi hak asasi maupun lain hal.

“Indonesia Haruslah Melakasanakan Sistem Pendidikan yang terarah dan Komperhensif”

Maka Sebagai bangsa yang besar kita perlu merefleksi dan bagaimana seharusnya pendidikan Indonesia melahirkan manusia indoneisa yang cerdas, sebaliknya menjadi pertanyaan cerdas yang seperti apakah seharusnya masyarakat Indonesia. Sistem pendidikan Indonesia wajib sifatnya dalam membentuk pribadi bangsa yang beridentitas dan mewujud dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Prof. H.A.R Tilaar guru besar UNJ dalam Bukunya Pedagogik Teoritis Untuk Indonesia watak dari seorang mansuia Indonesia hauslah:

Manusia cerdas secara Intelektual

Cerdas di dalam bidang sosial,

Manusia cerdas secara ekonomi,

Kecerdasan sebagai warga Negara Indonesia,

Kecerdasan yang dimiliki oleh jasmani yang sehat,

Kecerdasan agamis.

Manusia cerdas secara Intelektual adalah manusai yang dikaruniai tuahan akal dan budi dan mampu mempergunakan keduanya tidak hanya salah satu, sehingga mampu menjadi manusia cerdas yang Indonesia. bukan cerdas seperi manusia barat yang terjebak dalam intelektualisme yang mampu melahirkan kebudayaan yang  maju secara ilmu pengetahuan dan teknologi, tapi tidak melahirkan manusia yang memiliki nilai budi luhur sehingga menjadikan peperanagan dan kahancuran manusia dan kebudayaannya sendiri, maka perlu sekali keseimbangan antara akal dan budi sehingga pendidikan Indonesia haruslah menghasilkan manusia yang mengerti akan hak-hak manusia lainya dan bermanfaat bagi nusa dan bangsa.

Cerdas di dalam bidang sosial ialah seperti dasar Negara kita yang jika diperas dari pancasila ke trisila dan berakhir ekasila yang diartikan oleh Bung Karno adalah “Gotong Royong”. Era modern ini penghidupan nilai gotong royong perlu sekali, mengingat anak bangsa yang mulai teracun paham individualisme, karena bangsa ini tidak akan menjadi maju jika bukan karena salah satunya semangat gotong royong. Prinsip gotong royong adalah prinsip musyawarah, saling melengkapi, saling menunjang dan menyepakati sesuatu demi kepentiingan bersama.

Manusia cerdas secara ekonomi adalah manusia yang tentunya membutuhkan kecerdasan secara intelektual dan sosial sehingga mampu mengeksploitasi sumber daya alamnya dan menjadi seorang yang memiliki kepercayaan diri untuk berdiri sendiri bahkan membantu orang lain.

Kecerdasan sebagai warga Negara ialah seorang warga Negara yang merdeka artinya para warga Negara yang mempunyai identitas masing-masing namun bekerjasama untuk kemakmuran bersama.

Kecerdasan yang dimiliki oleh jasmani yang sehat, jelas dalam kata-kata yang biasa kita dengar didalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat artinya perlu jasmani yang kuat dan terolah untuk menjadi manusia Indonesia yang memiliki segudang kekayaan alam. Kecerdasan dalam mengolah kesehatan jasmani akan menuju pada memanfaatkan kearifan lokal serta bahan-bahan alam Indonesia yang menunjang kesehatan. Jika sehat jasmani akan mampu mendongkrak kecerdasan intelektual dan lainya.

Kecerdasan agamis adalah kecerdasan yang bertumpu pada toleransi. Indonesia adalah Negara yang gemah ripah loh jinawi, adil makmur seharusnya ini tidak boleh dinodai oleh egoisme salah satu agama, maka perlu sekali internalisasi nilai-nilai bertoleransi dalam kehidupan bermasyarakat dan mengedepankan komunikasi sehingga menghidupkan harmoni dalam Negeri ini, sehingga benar-benar hidup nilai luhur BHINEKA TUNGGAL IKA.

Kecerdasan-kecerdasan yang telah dipaparkan di atas menurut Prof. H.A.R Tilaar dalam bukunya haruslah benar-benar di hidupkan dalam dunia pendidikan Indonesia yang tentu saja bukan hanya kepada pendidikan sekolah tapi keseluruh dunia pendidikan baik keluarga, sekolah, masyarakat hingga Negara dan global. Pembangunan nasional hanya dapat terlaksana  jika ditopang oleh pendidikan nasional, pembangunan nasional adalah pembangunan yang membangun bangsa Indonesia dan manusia Indonesia yang dimana pelaksananya adalah manusia Indonesia“, dari Indonesia oleh Indonesia untuk Indonesia. Sehingga mampu menciptakan kemanusian, persatuan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat indoneisa serta menuju masyarakat sejahtera.

“Pertumbuhan Penduduk jika tidak disertai dengan kualitas pendidikan yang memadai maka hasilnya adalah pengangguran” Prof. H.A.R Tilaar (2015;78)***

 

Penulis adalah mahasiswa Universitas Pakuan Bogor

 

- Advertisement -

Stay Connected

16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Must Read

Pemkot Ambil Paksa Pengelolaan Pasar Induk TU

Bogor  -  Geram terhadap pengelolaan pasar induk Teknik Umum (TU) di Kelurahan Cibadak, Tanah Sareal, yang masih belum juga diserahkan pihak PT Galvindo, membuat...
- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Related News

Pemkot Ambil Paksa Pengelolaan Pasar Induk TU

Bogor  -  Geram terhadap pengelolaan pasar induk Teknik Umum (TU) di Kelurahan Cibadak, Tanah Sareal, yang masih belum juga diserahkan pihak PT Galvindo, membuat...

Presiden Tinjau Langsung Vaksinasi Di Kota Bogor

Bogor -    Presiden RI, Joko Widodo dalam kunjungan kerjanya Jumát (19/3) kemaren melakukan peninjauan langsung proses vaksinasi Covid-19 masal bagi pelayan publik dan lansia...

Neraca Keuangan Indocement Kuat Tanpa Hutang Bank

Jakarta  -  Indocement sebagai salah satu produsen semen terbesar di Indonesia, dengan karyawan sekitar 5.000 orang  di 13 pabrik berkapasitas produksi tahunan sebesar 24,9...

Tingkat Kesembuhan Pasien Covid-19 Di Bogor 91 Persen

Bogor – Ditengarai dengan sudah dilaksanakannya vaksinasi, maka jumlah pasien COVID-19 di Kota Bogor, yang dinyatakan sembuh secara keseluruhan hingga Minggu ini mencapai 11.796...

DPRD : Perubahan APBD Harus Lebih Terarah

Cibinong -   Guna mencegah ketidak-jelasan arah dalam menyusun perubahan parsial pada APBD 2021, dewan mengingatkan agar pemerintah kabupaten (Pemkab) Bogor dibawah kepemimpinan Ade Yasin,...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here