- Advertisement -
Advertising
Beranda IMPRESI Mencerdaskan Publik dengan "Real Politic"

Mencerdaskan Publik dengan “Real Politic”

PEMILIHAN Kepala Daerah (Pilkada) serentak tahun 2018 sudah di depan mata. Para kontestan menggunakan banyak cara untuk meraih kemenangan. Saling sikut, saling pukul, saling serang, termasuk perang opini melalui wahana media, baik media mainstreem atau media sosial.

Hingar bingar nama calon terus berseliweran memenuhi setiap sudut media, baik cetak, elektronik dan daring. Tidak hanya itu, wajah para kandidat pun menghiasi banyak ruang terbuka termasuk di pohon-pohon, papan reklame, baliho, spanduk dan ragam lainnya.

Tujuan para calon atau bakal calon tentu untuk meraih rakyat pada hajatan demokrasi Pilkada. Mendongkrak popularitas serta elektabilitas para kandidat merupakan kewajiban yang tak bisa dihindari. Walau bagi publik terkadang terkesan naïf, karena kemunculan para politikus tersebut hanya menjelang hajatan.

Lepas dari persoalan tersebut, mari kita telisik “penyakit lupa” para politikus di negara ini. Dalam masa sosialisasi melalui beragam media dan alat peraga para calon politik terbiasa menebar janji berupa program unggulan. Tapi, rakyat negeri ini sudah mahfum jika pada saat mereka menjabat, apa yang dijanjikan terlupakan.

Padahal, rakyat hanya butuh bukti karya, kerja dan prestasi selama mereka menjabat. Bukan sekedar jualan kecap pada saat pra pemilihan saja, yang ujungnya menjadi janji terabaikan, terlupakan dan hanya buai harapan. Sekarang ini, tahun 2018 adalah tahun politik. Hajat besar Pilkada serentak menjadi panggung menebar janji.

Seperti 14 daerah lain di Jawa Barat, warga Kota dan Kabupaten Bogor akan ikut menentukan pemimpin pada masa 2018-2023. Ya, hampir 4 juta warga Bogor menjadi pemilih calon wali kota dan bupati. Elite partai ppolitik di daerah, khususnya Kota Bogor, banyak melabuhkan harapannya kepada figur yang dinilai memiliki kapasitas paling ideal.

Namun sayang, penentuan calon pemimpin oleh partai kadang lupa menilai dan mengkaji secara jujur kandidat yang diusungnya. Mereka terbuai oleh harapan yang tinggi, dalih memiliki kursi banyak, atau popularitas mumpuni, ditambah hasil survei yang nyaris di luar nalar. Penetapan figur calon ibarat sebuah drama di panggung politik.

Lagi-lagi mereka lupa, bahwa yang memiliki harapan itu bukan saja hanya dirinya, namun ternyata banyak nahkoda. Bahkan, ada pula ABK dalam pesiar berharap dan bertumpu pada figur yang sama itu. Sadar akan hal itu, kembali mereka mencoba berselancar dalam ombak opini politik, memainkan peran bak bintang sinetron seakan hanya dirinya yang pantas bersandar.

Baca Juga :  Perlu Alokasi Dana Covid-19 Untuk Guru Honorer

Beruntung masih ada punggawa politik merasakan lelah bersandiwara. Mereka tersadarkan dengan opini yang mereka mainkan sendiri dan menganggap dirinya tak ubah boneka Barbie nan cantik, namun jelas bukan manusia nyata. Bermodal nafas yang tersenggal mereka kibarkan bendera, bentangkan layar kembali ke samudra, siap menantang badai, meski mereka sadar bahwa konsekuensi yang diterima akan sangat fatal. Seakan seperti kapten yang sudah sering menerjang badai, mereka lantangkan suara, berharap terdengar nahkoda lainnya ikut bersama menantang badai itu.

Seperti itulah selayang pandang yang tersaji dalam prosesi Pilwalkot Bogor 2018. Pada pembukaan sampai di tutupnya  pendaftaran pasangan calon terdaftar hanya 4 pasang Calon Wali dan Wakil Wali Kota. Mereka pasangan Dadang Iskandar Danubrata-Sugeng Teguh Santoso (PDIP dan PKB), Bima Arya Sugiarto-Dedie A. Rachim (PAN, Golkar, Demokrat, Nasdem dan Hanura), Achmad Ru’yat-Zaenul Mutaqin (PPP, PKS dan Gerindra, pasangan ke empat dari jalur independen, yakni Edgar Suratman-Sefwelly Ginanjar.

Baca Juga :  Mahasiswa dan Kemelut Penindasan Sosial

Ke-empat pasangan calon itu dinyatakan memenuhin syarat dan mereka berhak mengikuti tahapan-tahapan selanjutnya yang sudah di atur KPUD Kota Bogor. Terakhir mereka dinyatakan lolos uji tes kesehatan dan menunggu tahapan selanjutnya sampai penetapan pasangan calon pada tanggal 12 Februari 2018 mendatang.

Namun, sebelum penetapan paslon pun, hangatnya persaingan diantara ke empat kandidat sudah mulai menggelora. Bahkan, sudah sangat memanas di kalangan para pendukungnya. Mereka saling berlomba mengkampanyekan dan memperkenalkan jagoannya ke masyarakat, baik langsung turun ke masyarakat ataupun menyebarkan alat peraga jagoannya.

Di tengah hiruk pikuk saling adu kekuatan, belum nampak terlihat jelas geliat yang real dari para kandidat, memetakan iklim politik dan mengedukasi masyarakat untuk bisa memahami arti politik sesungguhnya. Mereka hanya di paksa mengenal dan berkubu pada satu paslon saja, tanpa mereka tahu bibit, bebet dan bobot dari paslon tersebut.

Penyelenggara pilkada pun hanya bisa bersosialisasi kepada masyarakat, agar waktunya nanti pada saat pemilihan mereka dapat hadir memberikan suara hak pilihnya. Ironis memang. Namun, inilah yang terjadi di Pilkada sekarang. Semoga tulisan ini bisa mencerahkan, menjernihkan kita semua sebagai objek dari proses politik pilkada.

 

Penulis adalah wartawan politikabogor.com

- Advertisement -

Stay Connected

16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Must Read

Pemkot Ambil Paksa Pengelolaan Pasar Induk TU

Bogor  -  Geram terhadap pengelolaan pasar induk Teknik Umum (TU) di Kelurahan Cibadak, Tanah Sareal, yang masih belum juga diserahkan pihak PT Galvindo, membuat...
- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Related News

Pemkot Ambil Paksa Pengelolaan Pasar Induk TU

Bogor  -  Geram terhadap pengelolaan pasar induk Teknik Umum (TU) di Kelurahan Cibadak, Tanah Sareal, yang masih belum juga diserahkan pihak PT Galvindo, membuat...

Presiden Tinjau Langsung Vaksinasi Di Kota Bogor

Bogor -    Presiden RI, Joko Widodo dalam kunjungan kerjanya Jumát (19/3) kemaren melakukan peninjauan langsung proses vaksinasi Covid-19 masal bagi pelayan publik dan lansia...

Neraca Keuangan Indocement Kuat Tanpa Hutang Bank

Jakarta  -  Indocement sebagai salah satu produsen semen terbesar di Indonesia, dengan karyawan sekitar 5.000 orang  di 13 pabrik berkapasitas produksi tahunan sebesar 24,9...

Tingkat Kesembuhan Pasien Covid-19 Di Bogor 91 Persen

Bogor – Ditengarai dengan sudah dilaksanakannya vaksinasi, maka jumlah pasien COVID-19 di Kota Bogor, yang dinyatakan sembuh secara keseluruhan hingga Minggu ini mencapai 11.796...

DPRD : Perubahan APBD Harus Lebih Terarah

Cibinong -   Guna mencegah ketidak-jelasan arah dalam menyusun perubahan parsial pada APBD 2021, dewan mengingatkan agar pemerintah kabupaten (Pemkab) Bogor dibawah kepemimpinan Ade Yasin,...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here