- Advertisement -
Advertising
Beranda IMPRESI Sumpah Pemuda Yang Terbata-bata Di Tataran Implementasi

Sumpah Pemuda Yang Terbata-bata Di Tataran Implementasi

‎LEBIH dari seratus pemuda – pemudi berbagai organisasi : Jong Java, Jong Batak, Jong Celebes, Pemoeda Soematra, Pemoeda Kaoem Betawi, Sekar Roekoen Pasoendan berkumpul. Dari tukar pendapat lahirlah ikrar gagasan persatuan dalam kongresnya.

Tiga puluh tahun kemudian, Soekarno dan M. Yamin mengotak-atik rumusan ikrar persatuan itu. Betapa ‘persatuan’ itu kosakata yang sangat perkasa. Maklum, tahun 1950-an, Soekarno repot dihajar oleh pemberontakan-pemberotakan daerah. Tentu butuh alat propaganda pemersatu bangsa untuk menghantam para pemberontak. Dan Sumpah Pemuda, hasil balutannya itu benar-benar digdaya, setidaknya untuk beberapa tahun kemudian.

Berpuluh tahun berselang, setiap tanggal keramat ini tiba, negeri ini pun mendadak basah kuyup diguyur rupa-rupa jargon. Pemuda, persatuan, nasionalisme. Buku sejarah yang telah berdebu kembali dibuka, dicomot semboyannya, diimbuhi dengan konteks mutakhir. Taraa….!! Jadilah jargon baru. Begitulah cara terbaik membaca sejarah.

Sebentar lagi, kita akan memasuki situasi yang sakral itu. Dimana peneguhan jiwa sang insan dewasa dirangkai menjadi sebuah satu-kesatuan yang tak terbantahkan!!

Pemuda Masa Kini

Zaman memang telah berubah, akan tetapi semangat jangan sampai kendor tuk terus melawan keangkara-murkaan sang penjajah negeri. Riwayat kekerasan sosial, penindasan yang termaktub serta kebatilan yang kian merajam dilubuk sang sanubari ibu pertiwi, haruslah menjadi bahan pertimbangan yang kuat nan kokoh bagi sang insan/i pemuda bangsa. Perjuangan serta perlawanan atas semangat idealisme kebangsaan yang tak menipu adalah kunci dari segala macam problematika negeri yang kian hari kian rapuh.

‎Apabila kita hidup delapan puluh dua tahun lalu saat Pemuda Muhammad Yamin, Amir Sjarifuddin, Assat dan Sukiman dan pemudi Sitti Soendari, memimpin sebuah ikrar yang kemudian kita kenang sebagai peristiwa Sumpah Pemuda, maka akan kita rasakan bahwa semangat zaman dan suasana mental yang tumbuh dan membakar di kalangan kaum muda saat itu, bukan saja sebuah momen historis saat segenap sentimen kedaerahan dan tendensi provisionalisme berubah menjadi kesadaran untuk menyatu dan terikat dalam komunitas impian bersama: bangsa Indonesia.!!!

Baca Juga :  Indonesia VS Virus Corona

Dan kini semangat itu telah riwayat & bahkan mungkin tamat dimakan situasi zaman yang tidak terkontrol. Dimulai masuknya hantu-hantu globalisasi maupun modernisasi, telah membuat pemuda/i bangsa menjadi kumpulan seonggok daging yang menyedihkan : konsumsi narkoba sebagian banyak oleh kaum muda, pelecehan seksual, konflik horizontal, kekerasan sampai karya-karya terburuknya telah terpampang indah mengotori negeri.

Pemuda/i bangsa menjadi bahan bancakan sang penjajah, pion-pion nafas yang sangat memprihatinkan!!

Masih adakah nafas revolusioner..

‎Namun hal itu, tidaklah menyelimuti keseluruhan. Masih ada dan tiba, pemuda/i bangsa yang giat menciptkan karya serta cinta semesta nusantara yang produktif.

Sekali lagi, Sumpah Pemuda bukan lagi seremonial belaka tanpa makna, melainkan harus dijiwai sepanjang waktu, tak boleh pupus oleh ruang dan waktu yang penuh kepalsuan hidup.

Baca Juga :  45 Tahun PPP Membangun Indonesia

Pemuda/i bangsa harus kembali kepada mandat para founding father terdahulu. Memapankan cita-cita bangsa ditengah situasi negeri dan zaman yang sedang sakit ini.

1928 lalu dari sebuah rumah di Jalan Kramat 106, Jakarta, bergema sebuah ikrar diiring gesekan biola WR Supratman : Kami poetera dan poteri Indonesia mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.Berseling dengan Sumpah Mahasiswa:Kami mahasiswa Indonesia bersumpah bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan.!!!

Dalam pancaran sinar kesadaran, penting mengenang pernyataan intelektual aktivis asal Polandia Adam Mitchnik, ketika ia membangkitkan kesadaran politik demokratik pada warga Polandia yang tertindas oleh rejim pemerintahannya kala itu, dengan berseru “menjadi realis adalah berani untuk membayangkan dan memperjuangkan apa yang terlihat mustahil untuk dilakukan!!”

 

 

Penulis adalah anak ketiga dari Pasangan Ibunda R. Inneu Ustama & Purnawirawan TNI AD

- Advertisement -

Stay Connected

16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Must Read

Pemkot Ambil Paksa Pengelolaan Pasar Induk TU

Bogor  -  Geram terhadap pengelolaan pasar induk Teknik Umum (TU) di Kelurahan Cibadak, Tanah Sareal, yang masih belum juga diserahkan pihak PT Galvindo, membuat...
- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Related News

Pemkot Ambil Paksa Pengelolaan Pasar Induk TU

Bogor  -  Geram terhadap pengelolaan pasar induk Teknik Umum (TU) di Kelurahan Cibadak, Tanah Sareal, yang masih belum juga diserahkan pihak PT Galvindo, membuat...

Presiden Tinjau Langsung Vaksinasi Di Kota Bogor

Bogor -    Presiden RI, Joko Widodo dalam kunjungan kerjanya Jumát (19/3) kemaren melakukan peninjauan langsung proses vaksinasi Covid-19 masal bagi pelayan publik dan lansia...

Neraca Keuangan Indocement Kuat Tanpa Hutang Bank

Jakarta  -  Indocement sebagai salah satu produsen semen terbesar di Indonesia, dengan karyawan sekitar 5.000 orang  di 13 pabrik berkapasitas produksi tahunan sebesar 24,9...

Tingkat Kesembuhan Pasien Covid-19 Di Bogor 91 Persen

Bogor – Ditengarai dengan sudah dilaksanakannya vaksinasi, maka jumlah pasien COVID-19 di Kota Bogor, yang dinyatakan sembuh secara keseluruhan hingga Minggu ini mencapai 11.796...

DPRD : Perubahan APBD Harus Lebih Terarah

Cibinong -   Guna mencegah ketidak-jelasan arah dalam menyusun perubahan parsial pada APBD 2021, dewan mengingatkan agar pemerintah kabupaten (Pemkab) Bogor dibawah kepemimpinan Ade Yasin,...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here